Pancasila dan Kriminalitas

Pancasila yang ditetapkan sebagai dasar negara berarti menjadi dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara dan seluruh warga negara Indonesia. Dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 alenia keempat terdapat rumusan sila-sila pancasila sebagai dasar negara Indonesia secara yuridis-konstitusional sah, berlaku dan mengikat seluruh lembaga negara, lembaga masyarakat, dan setiap warga negara, tanpa terkecuali. Pancasila sebagai ideologi negara, dapat dimaknai sebagai sistem kehidupan nasional yang meliputi aspek etika/moral, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan dalam rangka pencapaian cita-cita dan tujuan bangsa yang berlandaskan dasar negara. Namun sebagai falsafah negara, pancasila belum dapat dipahami sebagai sebuah ideologi dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari makin maraknya perilaku-perilaku menyimpang dari nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri.

Dekadensi Moral
Dewasa ini dapat kita lihat secara nyata masyarakat telah mengalami dekadensi moral dalam kehidupannya. Banyak kejadian-kejadian kriminalitas yang dilakukan oleh saudara setanah air kita seperti membunuh, mencuri, merampok, memperkosa dan lain sebagainya. Manusia seperti sudah kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, tidak lagi dapat berpikir bahwa tindakannya dapat merugikan orang lain bahkan negara, mereka hanya memikirkan kepentingannya diri sendiri. Mirisnya pelaku kriminalitas tidak terbatas oleh umur dan tingkat pendidikan, dari remaja hingga orang dewasa, dan dari yang tidak berpendidikan hingga orang-orang berpendidikan. Seperti sudah tidak lagi mempunyai dasar dan filter-diri dalam kehidupannya.
Pengaruh globalisasi dituding sebagai akar permasalahan dari dekadensi moral pada kehidupan saat ini, lapisan masyarakat dalam kehidupannya telah mengalami multi krisis. Renggangnya ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat, yang di dalamnya terdapat tradisi-tradisi, adat-istiadat, bahasa dan lain sebagainya yang berlaku dalam masyarakat kini tidak lagi berfungsi dengan baik, kehidupan sosial saat ini seakan acuh-tak acuh dan tidak perduli akan apa yang dilakukan oleh sesamanya. Berkembangnya kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia kini semakin menjamur seolah tanpa batasan, mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupannya. Media yang seharusnya memberikan unsur-unsur edukasi dalam setiap acaranya kini malah banyak menayangkan hal-hal yang tidak bermutu dan tidak pantas disaksikan, hal itu jelas berdampak besar pada konstruk berpikir yang pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan masyarakat dalam kesehariannya. Rapuhnya nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang menandai kemerosotan moral dalam bumi pertiwi. Pudarnya semangat gotong royong yang dikenal sebagai kekuatan bangsa kini semakin nyata, pancasila tidak lagi dapat menopang dengan kokoh pada setiap individu rakyatnya.


Membumikan Pancasila
Pancasila sebagai ideologi negara sudah tidak dapat dielakkan bahwa telah melekat di dalam setiap insan penduduk Indonesia. Pasalnya, pancasila sebagai dasar negara telah dikenalkan dan diajarkan di setiap instansi pendidikan dari mulai usia dini. Namun yang terjadi pancasila hanya sebagai natuur-wissenchaften (Jerman), suatu hal yang dilihat dari fisiknya saja sebagai kata-kata kering yang tak bermakna. Pancasila hanya diajarkan, dijelaskan dan dihafal. Dalam istilah yang dikemukakan Nietzsche adalah sebagai antikuaris, dapat diartikan sebagai benda kuno atau barang antik yang hanya berfungsi sebagai pajangan semata. Hal ini dilihat dari lemahnya penghayatan dan pengamalan dalam setiap butir pancasila, pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan, kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinnekaan dan kemajemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa, serta tidak berjalannya penegakan hukum secara adil dan optimal.
Menelisik dari sejarah dan tujuan dirumuskannya pancasila, dapat dikatakan bahwa pancasila sebagai titik-temu (common denominator) yang merupakan penyatuan dari berbagai ideologi, ras, agama dan golongan serta dapat berfungsi sebagai titik balik dan sebagai dasar yang mampu menyatukan masyarakat Indonesia. Kita sebagai rakyat Indonesia harus berkomitmen untuk menjadikan pancasila sebagai geistes-wiessenchaften (Jerman), suatu hal yang mempunyai ruh dan kaya akan makna yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai pancasila sebagai dasar dan ideologi harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Istilah Nietzsche adalah sebagai monumentalis, bahwa terdapat kebesaran dan keagungan yang terkandung dalam pancasila, bukan sekedar ‘memonumenkan’ tetapi mampu mewujudkan nilai-nilai kebesaran pancasila dalam kehidupan.
Pancasila bukan hanya sebuah konsep pemikiran semata yang hanya ada di awan, melainkan sebuah perangkat tata nilai yang sepatutnya dibumikan dan diwujudkan sebagai panduan dalam berbagai segi kehidupan. Jika seluruh individu masyarakat mampu mengamalkan secara konsisten dari nilai-nilai dan butir-butir yang terkandung di dalam setiap sila, maka dapat menopang pencapaian-pencapaian agung peradaban bangsa, bergotong royong, menghapuskan kekejian kriminalitas, saling menghargai-memahami antar sesama dan mampu menciptakan ‘bumi-surga’.

Iklan
Categories: Artikel, Artikel,luckydeddy, Uncategorized | Tinggalkan komentar

MENGINTEGRASIKAN MAZHAB PENDIDIKAN (ESENSIALISME, EKSISTENSIALISME, DAN PROGRESIVISME) DALAM PENDIDIKAN SENI

Oleh:
DEDDY IRAWAN

1. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana demi meningkatkan potensi, kemampuan dan kualitas sumber daya manusia. Selain itu tidak kalah pentingnya yakni pendidikan sebagai pembentukan sebuah karakter. Karakter disini sangat penting membentuk pribadi yang utuh, sebagai pegangan untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan. Adapun dalam GBHN Tahun 1999 mencantumkan tentang tujuan pendidikan nasional: “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan yang maha Esa, kecerdasan, keterampilan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

Pendidikan merupakan proses pewarisan nilai-nilai luhur, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter dari orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda atau sesamanya mulai lahir hingga kematian. Dalam garis besar dapat dituliskan beberapa aspek yang biasanya paling dipertimbangkan dalam proses pendidikan tersebut yakni: penyadaran, pencerahan, pemberdayaan dan perubahan perilaku. Pendidikan merupakan Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum, penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentinganyang terkait dengan pendidikan.

Pendidikan seni akan menerapkan beberapa dari aliran-aliran mazhab pendidikan tersebut dengan tujuan menjawab akan kesenjangan pengetahuan dan perilaku manusia yang terjadi. Yang mana pendidikan seni itu sendiri mengajarkan akan kelembutan ‘rasa’ atau perasaan, mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan pembentukan karakter yang kuat. Sehingga dapat menciptakan seseorang yang berkualitas dalam ilmu-ilmu pengetahuan dan mempunyai karakter yang kuat dalam diri, memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan, dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai kondisi lingkungan.

Masalah-masalah yang muncul dari latar belakang yang telah dipaparkan dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Mazhab filsafat pendidikan mana yang cocok untuk diterapkan pada pendidikan seni?
  • Mengapa dan perlu mengintegrasikan beberapa mazhab pendidikan dalam pendidikan seni?

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah:

  • Memilih mazhab pendidikan yang cocok untuk diterapkan dalam pendidikan seni.
  • Mengetahui perubahan yang terjadi dalam pendidikan seni setelah mengintegrasikan beberapa mazhab di dalamnya.

Serta manfaat yang diperoleh adalah:

  • Dapat menjadikan pembelajaran bagi penulis dan pembaca tentang pemilihan macam-macam mazhab filsafat pendidikan dengan alasan dan penyesuaiannya dalam pendidikan seni.
  • Dapat menjadikan pengetahuan akan maksud terbentuknya aliran-aliran tersebut, serta mampu mengintegrasikan beberapa mazhab filsafat pendidikan dalam pendidikan seni.

2. PENDIDIKAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (KBBI, 1991). Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Siregar dan Nara, 2014 : 3). Pendidikan menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak atau karakter, dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan berfungsi sebagai sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi. Pernyataan salah seorang pemikir behavioris Lester Frank Ward, tentang pentingnya pendidikan sebagai faktor pembentukan manusia seutuhnya adalah sebagai berikut:

Setiap anak dilahirkan didunia, hendaknya dipandang oleh masyarakat ibarat bahan mentah yang harus diolah dalam pabrik. Alam tak dapat diandalkan dalam pengembangan kemampuan Individu. Pengembangan kemampuan individu harus direncanakan dan sebagian besar rencana tersebut harus dilaksanakan dalam sekolah yang baik (Soyomukti, 2015 : 35-36.).

Pendidikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Dewasa di sini dimaksudkan adalah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, pedagogis, dan sosiologis agar mencapai tingkat hidup atau kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.

Pada era sekarang ini kreativitas perlu dikembangkan dan dikenalkan sejak usia dini, karena kreativitas dapat memecahkan masalah apa pun. Tindakan kreatif yang mengalahkan kebiasaan melalui orisinalitasnya, mengatasi segalanya. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara variasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan. Kreativitas sangat penting untuk ditingkatkan dalam diri anak khususnya bagi anak usia dini. Dengan kreativitas anak mampu mengekspresikan ide dan gagasan yang ada dalam dirinya, sehingga membawa dampak pada anak untuk terlatih menyelesaikan suatu masalah dari berbagai sudut pandang dan anak mampu melahirkan berbagai ide gagasan. Perkembangan kreativitas anak usia dini tidak hanya diperoleh dari faktor orangtua saja. Namun, budaya pola pengasuhan anak serta lingkungan bisa berpengaruh kepada anak.

Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan dalam penerapannya. Oleh karena itu dalam praktek penerapannya dapat disesuaikan dengan jenis, konsep, dan tujuan pada mata kuliah tertentu. Penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentinganyang terkait dengan pendidikan.

3. MENGINTEGRASIKAN MAZHAB PENDIDIKAN (ESENSIALISME, EKSISTENSIALISME, DAN PROGRESIVISME) DALAM PENDIDIKAN SENI

Pendidikan seni merupakan bagian dari peradaban. Pendidikan seni telah ada sebelum manusia mengenal peradaban modern, yang tujuannya selalu mengalami perubahan. Di awal kehadirannya sampai pertengahan abad ke-20, pendidikan seni difungsikan untuk penularan bakat seni kepada para generasi, yang tujuannya untuk menghasilkan seorang yang ahli dalam bidang seni (seniman). Sistem pendidikan seni di awal sejarahnya ini, prosesnya banyak berbasis pada sistem aprentisip, sanggar, atau studio kemudian bergeser ke sistem akademik pendidikan. Sistem pendidikan seni model pertama ini menganut prinsip ‘pendidikan di dalam seni’ (education in arts). Sistem pendidikan seni seperti ini, dapat dikatakan merupakan aset budaya. Dalam perkembangannya, terutama semenjak pertengahan abad ke-20, pendidikan seni mulai mewacanakan bukan penularan seni, tetapi pemfungsian seni yang tujuannya memanfaatkan seni sarana untuk membantu menumbuh kembangkan individu peserta didik dalam rangka mempersiapkan hari depannya. Inilah yang disebut dengan fungsi seni sebagai aset pendidikan atau fungsi didik seni (education through arts).

Pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan agar mampu menguasai kemampuan berkesenian sesuai dengan peran yang harus dimainkan (Soehardjo, 2012 : 13). Pendidikan seni di Indonesia boleh jadi merupakan istilah yang diadopsi dari “art education” (terutama yang berkembang di Amerika) dengan makna yang tidak terlalu ketat, karena bergantung pada kepentingan, jenis, dan bentuk pendidikannya. Ditinjau dari sasarannya terdapat dua perbedaan dalam pendiikan seni itu sendiri, yang pertama mengarahkan agar siswa memiliki kompetensi yang terkait dengan kesenimanan atau aktor pelaku seni (tekstual), seperti memiliki kompetensi penghayatan seni, kemahiran dalam memproduksi karya seni, dan piawai mengkaji seni. Justifikasi tekstual ini menempatkan seni sebagai suatu yang esensial. Yang kedua yakni, mengarahkan agar siswa mempunyai kompetensi berkesenian sebagai bentuk pengalaman belajar dalam rangka pendewasaan potensi individu sehingga dapat menjadi manusia seutuhnya (kontekstual) (Jazuli, 2008 : 15).

Pendidikan seni mempunyai peran penting dalam pembentukan watak dan karakter, karena merupakan bagian dari rumpun pendidikan nilai. Pendekatan belajar dengan seni adalah pendekatan yang dilandasi oleh asumsi bahwa seni sebagai cara pandang – wahana (penghubung) bagi siswa untuk memperoleh berbagai informasi, pengalaman, dan pemahaman mengenai berbagai fenomena yang ada atau terjadi di sekitarnya. Sebagai cara pandang, seni menjadi wahana bagi pengembangan citra, ide-ide kreatif yang berkaitan dengan substansi objek dan cara menyampaikannya (Jazuli, 2008 : 105).

Terkait dengan landasan dan konsep dalam pendidikan seni, terdapat beberapa pandangan mazhab yang menurut penulis dapat diintegrasikan dengan pendidikan seni, yaitu: Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme. Berikut definisi tentang tiga mazhab tersebut:

  1. Aliran Esensialisme

Aliran esensialisme adalah aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman renaissance, dasar pendidikan ini lebih fleksibel, terbuka untuk perubahan, toleran, tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu dan berpijak pada nilai nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama. (Zulhairii, 1991:21). Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat ini yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagi pendukung tetapi tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing masing.

  • Pandangan ontologi esensialisme

Sifat yang menonjol adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata nilai yang tiada celah dengan kata lain, bagaimana bentuk, sifat, kehendak, dan cita cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat.

  • Pandangan epistemologi esensialisme

Teori kepribadian manusia sebagai refleksi tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Sebab jika mamnusia mampu menyadari bahwa realita sebagai mikrikosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti menegtahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. Berdasarkan kualitas inilah manusia memproduksi pengetahuannya secara tepat dalam benda benda, ilmu alam, biologi, sosial, dan agama.

  • Pandangan aksiologi esensialisme

Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Bagi aliran ini, nilai nilai berasal dan tergantung pada pandangan pandangan idealisme dan realisme. Dengan kata lain, esensialisme terbina oleh kedua syarat tersebut.

  • Pandangan esensialisme mengenai belajar

Idealisme adalah falsafah hidup memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku (pribadi). Menurut idealisme , pada taraf permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Realisme  mencerminkan adanya dua jenis determinsi , yaitu mutlak dan terbatas.

  • Pandangan esensialisme mengenai kurikulum

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaknya berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan inilah kegiatan pendidikan dilakukan.

  1. Aliran Progresivisme

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup.

  • Asas belajar

John dewey memandang bahwa pendidikan sebagi proses dan sosialisasi (suwarno, 1992 : 62-63). Maksudnya adalah sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadian kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah anatara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup d sekolah saja.

  • Pandangan kurikulum progresivisme

Sikap progresivisme, memandang segala sesuatu berasaskan fleksibiltas dan dinamis, yang tercermin dalam pandangannya mengenaikurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental, dan adanya rencana dan susunan yang teratur.

  • Pandangan progresivisme tentang budaya

Memiliki konsep manusia memiliki kemapuan kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya, telah mempengaruhi pendidikan dengan pembaruan pembaruan pendidikan untuk maju. Sehingga semakin tinggi tingkat berpiirnya, manusia semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Akibatnya ananak tumbuh menjadi dewasa, masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang maju.

  1. Aliran Eksistensialisme

Menekankan kepada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Melihat kehidupan bukan sebagai sesuatu yang sudah siap terprogram oleh semacam kekuatan yang lebih tinggi (TUHAN) dengan makna dan tujuan, melainkan apa yang kita ciptakan sendiri sebagai mahluk individu. Adpun ciri pokok dari eksistensialisme :

  • Aktor bukan pengamat

Manusia tidak hidup dengan mundur dan mengobservasinya dari jauh, hanya akan memahami hidup dalam keterlibatan

  • Esensi dan eksistensi

Dalam kehidupan manusia, eksistensi mendahului daripada esensi manusiaitu sendiri

  • Hidup ke depan

Kita selalu keluar dari kita sendiri, mencari sesuatu, merencanakan, mengorganisir kedepan.

  • Kebebasan dan tanggung jawab

Eksistensialisme menantang kita untuk mengambil tanggung jawab atas pilihan yang kita pilih dan yang akan kita rintis kedepan. Apa yang kita lakukan adalah membentuk diri kita seperti adanya.

Aliran esensialisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini mengajarkan atau mewariskan budaya-budaya moral yang terdahulu, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya dalam kehidupan manusia. Sehingga melahirkan siswa yang berbudaya dan berjiwa seni yang dapat memelihara nilai-nilai secara turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri kepada masyarakat (Sunarya, 2012 : 79). Dapat meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan bertahan dalam kurun waktu lama. Serta dapat mengapresiasi karya seri, baik rupa maupun pertunjukan dengan baik dan dapat menghargai keberaneka ragaman karya seni dan budaya yang ada.

Aliran eksistensialisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna, yang berarti mengajarkan bahwa setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri serta berusaha memberikan bekal pengalaman yang luas dan komperhensif dalam semua bentuk kehidupan (Gandhi, 2011 : 189). Sehingga mencetak siswa yang yang percaya diri dalam bertindak, dan mempunyai kebebasan dalam berekspresi tentang seni.

Aliran progresivisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini mengajarkan dan membekali siswa dengan strategi-strategi pemecahan masalah untuk mengatasi tantangan kehidupan dan untuk menemukan kebenaran yang relevan pada saat ini. Sehingga mencetak siswa yang kreatif dalam berpikir, menciptakan inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan teknologi dan zaman, serta mampu memecahkan masalah (problem solver) tentang seni yang kemudian dapat bermanfaat untuk kehidupan siswa (Sunarya, 2012 : 70).

Pengintegrasian 3 (tiga) mazhab filsafat pendidikan yakni: Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme dengan pendidikan seni, menurut penulis selain untuk membentuk profil siswa yang mampu mengasah (mengolah), mengasihi (menyayangi), mengasuh (Memelihara) dan mengembangkan potensi multi kecerdasannya, juga akan dapat membentuk para anak didik yang mempunyai jiwa besar dengan karakter kuat pada dirinya, pendirian yang teguh, mempunyai budi pekerti yang baik, menghargai karya orang lain, dengan berlandaskan ajaran-ajaran tradisional yang penuh dengan pewarisan nilai-nilai luhur serta tidak menutup dirinya akan perubahan zaman sehingga dapat berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan berbudaya dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

4. PENUTUP

Dalam Pembahasan di atas dapat disimpulkan ke dalam beberapa point antara lain:

  1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
  2. Pendidikan harus mampu merubah tingkah laku peserta didik menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
  3. Kreativitas perlu dikembangkan dan dikenalkan sejak usia dini, karena kreativitas dapat memecahkan masalah apa pun. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara variasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan.
  4. Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum, penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.
  5. Pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan agar mampu menguasai kemampuan berkesenian sesuai dengan peran yang harus dimainkan.
  6. Ditinjau dari sasarannya terdapat dua perbedaan dalam pendiikan seni itu sendiri, yang pertama pendidikan tentang seni itu sendiri (education in arts) mengarahkan agar siswa menjadi aktor pelaku seni (tekstual). Yang kedua, pendidikan melalui seni (education thourgh arts) mengarahkan agar siswa mempunyai kompetensi berkesenian sebagai bentuk pengalaman belajar dalam rangka pendewasaan potensi individu sehingga dapat menjadi manusia seutuhnya (kontekstual).
  7. Pengintegrasian 3 (tiga) mazhab filsafat pendidikan (Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme) dengan pendidikan seni, akan mencetak para anak didik yang mempunyai jiwa besar dengan karakter kuat pada dirinya, pendirian yang teguh, mempunyai budi pekerti yang baik, dengan berlandaskan ajaran-ajaran tradisional yang penuh dengan pewarisan nilai-nilai luhur serta tidak menutup dirinya akan perubahan zaman sehingga dapat berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan berbudaya dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

Dalam pemabahasan dalam makalah ini terdapat beberapa saran yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Pendidikan yang bersifat kreatif dan pendidikan sebagai pembentukan karakter tentunya harus ditanamkan sejak usia dini, agar peserta didik dapat survive dalam kehidupannya dan selalu ada ide-ide kreatif untuk memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupannya.
  2. Pendidikan seni perlu dikembangkan dan disebar luaskan karena pendidikan seni sangat penting dalam kehidupan yakni sebagai pendidikan nilai, dimana di dalamnya terdapat ajaran kelembutan ‘rasa’ atau perasaan, mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan pembentukan karakter yang kuat.
  3. Makalah ini perlu adanya koreksi ulang, sehingga jika ingin mengutip atau mempelajarinya lebih baik tanyakan terhadap orang yang lebih mengetahui dalam bidang ini atau diskusikan terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Gandhi, Teguh Wangsa. 2011. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Jalaluddin & Idi Abdullah. 2013. Filsafat Pendidikan. Jakarta:  Rajawali Pers.

Jazuli, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Semarang: Unesa University Press.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991.

Siregar, Evelin & Hartini Nara. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Soehardjo, A. J. 2012. Pendidikan seni dari Konsep Sampai Program. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soyomukti, Nuraini. 2015. Teori-Teori Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Suharto, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Sunarya, Yaya. 2012. Filsafat Pendidikan. Bandung: Arvino Raya.

Categories: Artikel,luckydeddy | Tinggalkan komentar

ANALISIS KONOTASI DAN DENOTASI PADA KAIN KAPAL LAMPUNG TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

Oleh:
DEDDY IRAWAN

palepai_det-centre

Gambar Kain Pelepai.

(Foto 1: Yudhi Sulistyo, 2012).

Lokasi: Festival Krakatau ke XXII

Sumber: http://www.tribaltextiles.info/community/files/xpalepaidetcentre205.jpg.pagespeed.ic.jDdGwv1Ugj.jpg

DENOTASI  : Kain Kapal atau Ship Cloth atau Boat Cloth adalah kain tradisional berbentuk menyerupai sarung yang dibuat dari tenunan benang katun (kapas) yang merupakan salah satu kain tradisional asal Lampung, sesuai dengan namanya, kain ini memiliki motif kapal sebagai motif utamanya. Kain kapal memiliki motif yang sangat khas, biasanya terdiri dari tiga bagian, yang pertama adalah motif border atau batas. Motif border biasanya terdiri dari satu, dua sampai tiga lapis dengan motif yang berbeda antar lapisan. Kemudian yang kedua adalah motif utama, motif utama ini biasanya terdiri dari kapal (jung), rumah, manusia dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Motif ini mengisi bagian utama dari kain kapal. Dan yang ketiga adalah motif filler atau pengisi, motif jenis ini biasanya mengisi daerah-daerah kosong pada bagian antar motif utama. Motif jenis ini juga bisanya berbentuk segitiga, kotak dan helaian pakis motif lain-lain.

Kain Kapal dibagi menjadi tiga macam sesuai dengan panjangnya kain tersebut:

1. Nampan, panjangnya biasanya kurang dari satu meter, biasa digunakan sebagai penutup atau pelapis nampan untuk seserahan pada acara lamaran maupun pernikahan di Lampung. Kain kapal jenis ini biasanya tidak digunakan oleh bangsawan.

2. Tatibin, biasanya panjangnya satu meteran dan digunakan sebagai hiasan dinding dan kadang kadang juga digunakan sebagai penutup seserahan.

3. Pelepai, ini adalah kain kapal yang paling panjang, panjangnya biasanya sampai tiga meter. Kain ini diguanakan sebagai hiasan dinding, namun biasanya kain kapal jenis ini hanya dimiliki orang-orang yang memiliki pengaruh besar di adat.

KONOTASI  :  Kain kapal dipakai sebagai perlambangan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Oleh karena itu, dalam pemaknaannya kain kapal terdiri dari tiga bagian, alam bawah, alam manusia dan alam atas. Kapal juga sebagai perlambangan kehidupan manusia yang bergerak dari satu titik menuju ke titik akhir. Motif kapal pada kain kapal dianggap sebagai perjalan roh orang yang baru meninggal menuju alam baka. Sehingga, pada masa ini motif-motif pada kain kapal cenderung diwarnai dengan warna-warna gelap. Cerita tentang tiga dunia juga diartikan sebagai dunia manusia, dunia atas (surga/nirwana) dan bawah (neraka).

Kain kapal selalu dihadirkan dalam beberapa titik penting dalam keidupan manusia yaitu: kelahiran, pernikahan dan kematian. Sebelum islam masuk, kematian dipandang sebagai titik terpenting dalam kehidupan oleh masyarakat Lampung sehingga kain kapal pun dianggap sebagai pelayaran roh menuju alam baka. Setelah islam masuk, justru kehidupan manusia adalah proses penting yang menentukan layak atau tidaknya seseorang untuk mencapai surga. Sehingga, setelah islam masuk kain kapal dianggap sebagai cerita perjalanan hidup anak manusia dari hidup sampai mati.

Categories: Artikel,luckydeddy | Tinggalkan komentar

TOWARDS A HOLISTIC PARADIGM OF ART EDUCATION (By Peter London)

Direview oleh:
DEDDY IRAWAN

Artikel dengan judul “Towards A Holistic Paradigm Of Art Education” yang dapat diartikan sebagai “Menuju Paradigma Holistik Pendidikan Seni” ini memaparkan pengalaman Peter London dalam penelitiannya selama dua puluh lima tahun yang telah dilakukan di beberapa Negara diantaranya: Jepang, Nepal, Amerika, Austria, India, dan di sepanjang benua Asia, Afrika dan Amerika. Dalam penelitiannya Peter London mengemukakan tentang mengapa pendekatan holistik untuk seni dan pengajarannya, manfaat dari pendekatan holistik untuk seni dan pengajarannya, menuju sebuah paradigma holistik dan bagian-bagian yang seharusnya mencapai kongruensi dalam pengembangan holistik masing-masing individu peserta didik, yakni pikiran (mind), tubuh (body), dan jiwa (spirit).

Pada bagian awal dikemukakan bahwa pada iklim sosial umum kita kebanyakan tidak berseni, yang mana tidak berkembang dan tidak adanya keselaran antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Kemudian akan berdampak negatif bagi individu dan kolektif dalam kehidupan masyarakat, bahkan pada lingkungan sekolah sebagai pencetak perilaku yang terkadang kaku, lemah, ragu, terdistorsi, tidak seimbang, cemas, berlebihan atau bahkan berbahaya untuk diri, lingkungan, dan untuk ekspresi berseni. Dengan demikian perlu adanya pendekatan sistematik pendidikan untuk merubah keadaan pendidikan menjadi efektif, seperti halnya dalam pendidikan holistik, sebuah pendekatan yang meliputi seluruh orang, pikiran, tubuh, dan jiwa.

Sebelum jauh membahas tentang apa yang disebut dengan paradigma holistik, perlu adanya penjelasan tentang paradigma holistik itu sendiri. Menurut Husein Heriyanto, paradigma holistik dapat diartikan sebagai suatu cara pandang yang menyeluruh dalam mempersepsi realitas. Berpandangan holistik artinya lebih memandang aspek keseluruhan dari pada bagian-bagian, bercorak sistemik, terintegrasi, kompleks, dinamis, non-mekanik, dan non-linier. Dalam ranah pendidikan, pendidikan holistik merupakan suatu metode pendidikan yang membangun manusia secara keseluruhan dan utuh dengan mengembangkan semua potensi manusia yang mencakup potensi sosial-emosi, potensi intelektual, potensi moral atau karakter, kreatifitas, dan spiritual.[1] Dengan sedikit penjelasan tentang arti kata  paradigma holistik dan holistik dalam ranah pendidikan, dapat ditangkap maksud dari pemaparan Peter London bahwasannya sebuah paradigma holistik untuk mengajar dan mempraktikkan seni mampu menyediakan pengalaman transformasi, di mana pikiran, tubuh, dan jiwa bergabung menuju kongruensi, yang menghasilkan individu dan komunitas yang memiliki peningkatan karakter.

Peter London mengamati kondisi pendidikan yang mana sekolah dan guru seringkali  mengajarkan tentang perolehan data dan penalaran deliberatif yang keduanya merupakan strategi yang sangat hebat dari pikiran, dan sering membuat kita tahu, bahkan pandai, atau perkadang pintar. Namun hal tersebut dirasa kurang dalam membuat kita selaras dalam pikiran tubuh dan jiwa. Perolehan data, ide dan penalaran disutkan hanya merupakan sebagian kecil dari kapasitas pikiran, yang dengan hal tersebut tidak cukup untuk dapat merubah nilai-nilai dan perilaku-perilaku. Penggabungan artistik dan autentik dapat memberikan sebuah model dari aktivitas holistik. Dengan demikian mengajar seni dalam sebuah paradigma holistik dapat menyediakan sebuah instrumen untuk menumbuhkan dan meningkatkan keseluruhan individu, dan bahkan ke ranah masyarakat.

Peter London mengajak kita menjalah lebih jauh tentang tiga bagian dalam pendidikan holistik pendidikan seni diantaranya pikiran, tubuh dan jiwa.

  1. Pikiran (mind)

Pikiran yang seharusnya dapat dikembangkan dan dilatih sehingga memiliki kapasitas yang lebih, malah hanya dibiasakan untuk sekedar menalar, namun itulah realita yang ada pada sistem pendidikan di sekolah saat ini. Padahal selain bernalar, kita juga bermimpi, berimajinasi, dan berintuisi; berfantasi, melebih-lebihkan, mengingat, dan juga percaya. Kita memiliki kapasitas untuk setia, membayangkan, dan kagum. Semua itu merupakan kapasitas yang berbeda dalam pikiran kita, dan semuanya, bersama penalaran membentuk pikiran manusia yang beraneka ragam. Kesalahan besar dari sistem pendidikan kita adalah menyebut penalaran sebagai pikiran, penalaran hanya merupakan satu kapasitas dari intelejensi pikiran saja. Hal tersebut secara tereksklusi mematikan seluruh bentuk intelejensi lainnya, merusak kualitas lain dari pikiran, dan pada akhirnya melemahkan dan mendirstorsi penalaran itu sendiri.

Setalah mengulas potensi dari pikiran yang ternyata mempunyai banyak kapasitas yang seharusnya dikembangkan, kini kita beralih pada pembahasan peran pendidikan seni dalam mewujudkan hal tersebut. Mengembangkan satu dari banyak agen pikiran, dianggap gagal untuk meningkatkan perilaku dan sama sekali tidak meningkatkan pikiran. Pendidikan seni mungkin tidak menggunakan pikiran holistik, tetapi pikiran yang berseni adalah sebuah pikiran holistik. Pendidikan holistik merujuk dan mengembangkan potensi-potensi seperti: keingintahuan, kekaguman, intuisi, mimpi, fantasi, dan subkesadaran, yang merupakan semua keadaan pikiran yang familiar pada cara berfikir orang-orang yang kreatif.

  1. Tubuh (body)

Faktanya keseluruhan tubuh dan bagian-bagiannya seperti organ, sistem, dan sel mempunyai intelejensi. Pendidikan holistik secara hati-hati, eksplisit, dan konstan mengolah berbagai intelejensi yang ada di dalam keseluruhan tubuh. Seni visual dapat mempelajari begitu banyak hal mengenai apa yang dibutuhkan dari tubuh, yang berupa informasi, kesadaran, keterlatihan, dan keselarasan dari apa yang dipelajari dan dipraktikkan oleh komunitas penari, pemusik, atlit, dan orang-orang teater. Banyak budaya juga telah mengembangkan sistem canggih untuk memberikan pengajaran tentang tubuh yang memiliki kesadaran, kewaspadaan, dan intelejensi.

Pendidikan seni mengajarkan/mengolah tubuh menjadi harmonis dan berintelejensi. Faktanya, dapat dikatakan bahwa proses kreatif adalah sebuah proses perwujudan. Beberapa hal mengenai pelaku seni seperti: visual, teatrikal, dan musikal itu penuh dengan bukti mengenai sebarapa banyak inspirasi dan petunjuk berasal dari kinestetiknya sendiri.

  1. Jiwa (spirit)

Jiwa sebagai bagian yang kita percayai sebagai nilai yang terhebat. Dimensi spiritual memberikan kualitas esensial pada kita dan menghapus kekompleksan dari perilaku kita pada umumnya. Apa pun yang bertahan dalam pusat kepercayaan dan sistem nilai kita, atau apapun yang terhebat dan paling diperhatikan, dapat dikatan menciptakan dimensi spiritual kita. Ketika tercapai harmoni antara pikiran, tubuh, dan jiwa, orang mengalami apa yang disebut Abraham Maslow, William James dan Micky Harte atau Lous Armstrong sebagai pengalaman puncak, religius, atau sebuah pengalaman luar biasa, dan pengalaman yang berjalan baik. Apapun nama dan dari mana asalnya, ketika terjadi kongruensi antara pikiran, tubuh, dan jiwa, orang-orang yang mengalami keadaan seperti itu menceritakan bahwa mereka sedang mengalami keadaan yang sempurna, seperti halnya: usaha menjadi ringan, ide mengalir dengan mudah dan cepatnya, stamina meningkat, begitu juga kesabaran; fokus menjadi lebih berkonsentrasi, waktu menjadi lebih lama, batas-batas melunak, definisi menjadi semakin jelas, ego berkurang, seluruh indera menjadi menguat; penglihatan dapat melihat segala, dunia menjadi sangat membahagiakan, semua hal menjadi menarik, semua hal menjadi berarti, semua hal seakan menjadi porsi dari setiap hal lainnya; perasaan pedduli terhadap segala hal, emosi menjadi penuh tetapi tanpa gangguan yang kuat, dan lain sebagainya.

[1] Ratna Megawangi, Pendidikan Holistik (Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation, 2005), hlm 6.

DAFTAR PUSTAKA

Gandhi, Teguh Wangsa. 2011. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Jalaluddin & Idi Abdullah. 2013. Filsafat Pendidikan. Jakarta:  Rajawali Pers.

Jazuli, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Semarang: Unesa University Press.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991.

Megawangi, Ratna . 2005. Pendidikan Holistik. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation.

Siregar, Evelin & Hartini Nara. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Soehardjo, A. J. 2012. Pendidikan seni dari Konsep Sampai Program. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soyomukti, Nuraini. 2015. Teori-Teori Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Suharto, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Sunarya, Yaya. 2012. Filsafat Pendidikan. Bandung: Arvino Raya.

Categories: Artikel | 1 Komentar

Semar sebagai sumber ide

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Penciptaan

Sejalan dengan meningkatnya ragam kebutuhan dan swa-sembada manusia, maka dituntut pula pengembangan daya pikir dan daya cipta manusia. Kreativitas dan inovasi yang terus menerus berupaya untuk menemukan hal-hal baru demi memenuhi kepuasan hidup manusia. Hal ini membidani lahirnya istilah kriya seni, sehingga mendorong untuk selalu menciptakan hal-hal yang baru, baik berupa benda-benda yang memiliki nilai fungsional praktis maupun benda hias semata.

Faktor perencanaan dan desain sangat menentukan hasil akhir perwujudan karya kriya seni. Upaya membuat benda atau sebuah karya sedemikian rupa, merupakan hal yang tidak mudah. Berkaitan hal tersebut, maka proses desain beserta seluruh tahapan pencarian sumber ide menjadi dasar untuk memperkuat nilai-nilai estetika maupun nilai-nilai filosofis dari karya yang akan diciptakan.

Dengan keterampilan dan serta kemampuan daya cipta, rasa dan karsa manusia dapat menghasilkan beraneka ragam benda yang mempunyai masing-masing fungsi dan masing-masing pula bahan bakunya. Sedangkan dalam penciptaan karya ini menggunakan bahan tanah liat dengan finishing glasir. Benda fungsional yang dibuat berupa jam yang peletakannya yaitu diatas meja, atau dapat juga sebagai hiasan interior ruangan.

Sebuah jam tanpa disadari, ia telah melakukan pekerjaan yang terus-menerus dan tanpa henti, namun ia mampu dan bahkan tak pernah mengeluh. Artinya: “Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan ternyata kita bisa melakukannya”.

Tokoh Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya,  Bebadra = Membangun sarana dari dasar, dan Naya = Nayaka = Utusan mangrasul. Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia. Sedangkan, “kuncung semar”, yang dalam pribahasa jawa kuno, maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

  1. B.     Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dalam penciptaan karya ini adalah sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk mengenal dan memperdalami tentang kerajinan-kerajinan dari tanah liat dan mengaplikasikannya
  2. Eksplorasi bentuk dari teknik Slabing.
    1. Pengkayaan produk kriya yang memenuhi aspek fungsional, dekoratif dan estetis serta filosifis.

Adapun manfaat kandung didalamnya adalah:

  1. Bagi seniman : menjadi media penyampaian aspirasi,
  2. Bagi seniman lain : media pembelajaran dan sebagai refrensi,
  3. Umum : dijadikan untuk mengetahui waktu/sebagai interior suatu ruangan.
  1. C.      Metode Penciptaan

Metode yang digunakan dalam pembuatan karya tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pemilihan Tema

Merupakan bagian dari proses pemilihan tema yang dijadikan sebagai dasar konsep untuk sebuah karya seni.

  1. Pengumpulan Data/Referensi

Merupakan proses pengumpulan referensi-referensi yang berkaitan dengan tema, yang diperoleh secara primer maupun browsing, dimaksudkan untuk melengkapi data yang kemudian digunakan sebagai acuan dalam pembuatan karya tesebut.

  1. Penentuan Bentuk

Merupakan kegiatan menentukan bentuk dari suatu karya seni yang akan diwujudkan melalui proses perhitungan dari berbagai aspek kesenian.

  1. D.     Proses Penciptaan

Proses penciptaan/pembuatan karya tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Alat dan Bahan
    1. Alat:
  • Cuter
  • Senar
  • Wire modelling tools
  • Wood modelling tools
  • Banding wheel
  • Kuas ukuran 0.3 & 0.8
  • Triplek (Alas pembentukan)
  • Rol kayu
  • Sponges/Busa
  • Mangkok
  • Penggaris
  • Gunting
  • Bilah kayu
  • Pensil
  1. Bahan:
  • Tanah liat
  • Slip (tanah liat yang dihaluskan dengan campuran air).
  1. Teknik pengerjaan
    1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan,
    2. Membuat desain pada kertas HVS,
    3. Mengulet lanah liat, dengan tujuan membuang udara yang terdapat didalamnya.
    4. meletakkan tanah liat diatas triplek, lalu meratakan/melempengkan dengan menggonakan roll kayu dengan diletakkan bilah kayu pada sisi samping kanan dan kiri, supaya menahan roll kayu agar mendapatkan hasil yang rata dan halus,
    5. Membuat pola pada tanah liat yang telah rata menggunakan pensil dan memakai mal dari karton,
    6. Memotong lempengan tanah liat sesuai pola yang telah dibuat menggunakan cuter,
    7. Ambil potongan lempengan tanah liat yang telah berpola dengan menggunakan senar yang berfungsi untuk memotong bagian bawah yang lengket dengan triplek,
    8. Menyambungkan antara sisi satu dengan sisi-sisi yang lainnya secara bertahap dengan cara menggoreskan bagian-bagian yang akan disambung menggunakan wood modelling tool, kemudian diolesi slip tanah liat menggunakan kuas (berfungsi sebagai perekat/lem),
    9. Menyempurnakan bentuk yang telah dibuat dengan merapihkan sisi-sisi permukaanya dengan menggunakan wire modelling tool dan kuas yang setangah basah,
    10. Mengeringkan dengan cara diangin-anginkan,
    11. Pembakaran menggunakan teknik double fireing (duakali pembakaran), pembakaran pertama yaitu pembakaran biscuit, dan kemudian dibakar lagi setah melalui proses finishing.
  1. E.      Deskripsi Karya
    1. Bentuk :
      1. Lancip/kuncung = maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
      2. Batu bata = “ingin menjadi sesuatu”.

Maksudnya adalah sebuah batu bata hanyalah sebuah bata, tapi jika sebuah batu bata di gabung dengan batu bata lain, maka bisa menghasilkan sebuah bangunan yang indah, dan bahkan menjadi sebuah situs sejarah.

Begitu juga dengan kita, sebagai serang manusia, kita harus memiliki filosofi batu batu “ingin menjadi sesuatu”, tidak harus menjadi seseorang yang hebat, berkuasa, kaya ataupun dihormati, melainkan menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain merasa senang dan terbantu dengan keberadaan kita sebagai seorang manusia. seperti halnya sebuah batu bata yang menjadi sebuah bangunan, mereka ingin berguna bagi semua manusia yang berteduh di dalam sebuah bangunan, yang tidak lain adalah kumpulan dari tiap batu bata.

  1. Warna :
    1. Hijau = Warna hijau termasuk dalam kelas warna ‘dingin’ dan membawa kesegaran pada mata. Hijau melambangkan kesegaran, kesehatan, kealamian, dan pembaharuan.

b.Coklat = Warna ini merupakan warna dari tanah dan bumi, melambangkan kepercayaan, kedewasaan, dan daya tahan. Warna natural ini membawa kenyamanan bagi sekelilingnya sehingga banyak digunakan untuk mendekorasi ruangan.

  1. Teknik : Slabing/Lempeng

Teknik lempeng digunakan untuk membuat bentuk-bentuk utamanya bentuk yang memiliki sudut, seperti bentuk kubus, kotak, persegi panjang, segitiga, segi lima , hexagon dan lain sebagainya.

Didalam teknik lempeng di bedakan menjadi 2 jenis tanah :

  • Lempeng lunak (soft slabbing),
  • Lempeng “keras” (hard slabbing)

Jenis lempengan dengan tanah lunak sangat responsive (memudahkan untuk di bentuk), folding (dapat dilipat), crumpling (keriput/kusut), frilling (rumbai-rumbai) dan mudah untuk dibengkokan. Teknik ini jika di kriya tekstil hampir seperti membuat baju atau seni melipat kertas (origami). Sedangkan lempeng “keras” sama seperti joinery (menyambung/merangkai).

  1. Finishing : Glasir

Glasir merupakan material yang terdiri dari beberapa bahan tanah atau batuan silikat dimana bahan-bahan tersebut selama proses pembakaran akan melebur dan membentuk lapisan tipis seperti gelas yang melekat menjadi satu pada permukaan badan keramik.

Glasir merupakan kombinasi yang seimbang dari satu atau lebih oksida basa (Flux), Oksida Asam (Silika), dan Oksida Netral (Alumina), ketiga bahan tersebutmerupakan bahan utama pembentuk glasir yang dapat disusun dengan berbagai kompoisisi untuk suhu kematangan glasir yang dikehendaki.

Dalam pengertian yang sederhana untuk membuat glasir diperlukan tiga bahan utama, yaitu :

  • SILIKA: berfungsi sebagai unsur penggelas (pembentuk kaca).

Silika (SiO2), juga disebut Flint atau Kwarsa yang akan membentuk lapisan gelas bila mencair dan kemudian membeku. Silika murni berbentuk menyerupai kristal, dimana apabila berdiri sendiri titik leburnya sangat tinggi antara yaitu 16100 C – 17100 C.

  • ALUMINA: berfungsi sebagai unsur pengeras

Al2O3 digunakan untuk menambah kekentalan lapisan glasir, membantu membentuk lapisan glasir yang lebih kuat dan keras serta memberikan kestabilan pada benda keramik. Yang membedakan glasir dengan kaca/gelas adalah kandungan aluminanya yang tinggi.

  • FLUX : berfungsi sebagai unsur pelebur (peleleh).

Digunakan untuk menurunkan suhu lebur bahan-bahan glasir. Flux dalam bentuk oksida atau karbonat yang sering dipakai adalah ; timbal, boraks, sodium/natrium, potassium/kalium, lithium, kalsium, magnesium, barium, strontium, bersama-sama dengan oksida logam seperti : besi, tembaga, kobalt, mangaan, krom, nikel, tin, seng, dan titanium akan memberikan warna pada glasir, juga dengan bahan yang mengandung lebih sedikit oksida seperti : antimoni, vanadium, selenium, emas, kadmium, uranium.

  1. F.      Simpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan mengenai hal-hal pokok berkaitan dengan karya tersebut, adalah sebagai berikut :

  1. Karya ini dibuat untuk pengkayaan produk kriya yang memenuhi aspek fungsional, dekoratif dan estetis serta filosifis.
  2. Tema diambil dari bentuk rambut kuncung semar.
  3. Teknik pembuatan menggunakan Teknik Slab/Lempeng.
  4. Glasir merupakan campuran oksida basa (Flux), Oksida Asam (Silika), dan Oksida Netral (Alumina), yang digunakan untuk memfinishing keramik.
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KERAJINAN BUNGA PLASTIK

           Sejalan dengan meningkatnya ragam kebutuhan dan swa-sembada manusia, maka dituntut pula pengembangan daya pikir dan daya cipta manusia. Kreativitas dan inovasi yang terus menerus berupaya untuk menemukan hal-hal baru demi memenuhi kepuasan hidup manusia. Hal ini mendorong lahirnya istilah kriya seni, sehingga memotivasi untuk selalu menciptakan hal-hal yang baru, baik berupa benda-benda yang memiliki nilai fungsional praktis maupun benda hias semata.

          Dengan keterampilan dan serta kemampuan daya cipta, rasa dan karsa manusia dapat menghasilkan beraneka ragam benda seperti-halnya bunga plastik ini, dengan kejelian dan keterampilan yang telah dimiliki oleh ibu Samiati maka beliau dapat menghasilkan benda hias yang berupa bunga plastik tersebut dengan bermacam-macam bentuk dan warna yang sangat indah.

          Bunga plastik tersebut dibuat beliau dengan menggunakan bahan-bahan yang berupa barang bekas yakni gelas plastik tempat air mineral bekas, selain ekonomis dan praktis juga sangat ramah lingkungan, karna merupakan suatu langkah menghentikan global warming dan patut diacungi jempol. Ibu Samiati menjual kerajinanya tersebut dengan harga yang sangat ekonomis yaitu kisaran Rp.50.000,- sd Rp.300.000,-  untuk pemesanan dapat datang sendiri dikediamannya di Jln Abdul Latif Yasin, rt 28, rw 11, Sumbersari, Teluk Dalem, Mataram Baru, Lampung Timur atau dapat juga melalui via telpon atau via sms pada nomer 0812 7931 7845.

Atas kunjungannya kami ucapkan TERIMA KASIH,,,,,,,,,,,,,

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pengertian Seni Kriya

http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/pengertian-seni-kriya/
Posted: June 14, 2009 in Kriya

I Wayan Seriyoga Parta

Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).

Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter diartikan sebagai ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)

Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)

Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.

Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)

Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.

Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.

Pemisahan yang berdasarkan strata atau kedudukan tersebut mencerminkan posisi dan eksistensi seni kriya di masa lalu. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata, di dalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skill yang tinggi. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.

Kembali ditegaskan oleh Prof. SP. Gustami: seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung (Prof. SP.Gustami, 1992:71).

Uraian tadi menyiratkan bahwa kriya merupakan cabang seni yang memiliki muatan estetik, simbolik dan filosofis sehingga menghadirkan karya-karya yang adiluhung dan munomental sepanjang jaman. Praktek kriya pada masa lalu dibedakan dari kerajinan, kriya berada dalam lingkup istana (kerajaan) pembuatnya diberi gelar Empu. Sedangkan kerajinan yang berakar dari kata “rajin” berada di luar lingkungan istana, dilakoni oleh rakyat jelata dan pembuatnya disebut pengerajin atau pandhe.

Dari beberapa pendapat yang telah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa wujud awal seni kriya lebih ditujukan sebagai seni pakai (terapan). Praktek seni kriya pada awalnya bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Contohnya dapat kita saksikan pada dari artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara ritual adat (suku) serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan seperti; penghormatan terhadap arwah nenek moyang.

Masuknya agama Hindu dan Budha memberikan perubahan tidak saja dalam hal kepercayaan, tetapi juga pada sistem sosial dalam masyarakat. Struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta menimbulkan tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia terjadi akibat asimilasi serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha India yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan prasejarah di Indonesia. Kedua sistem keagamaan ini mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia yaitu pengkultusan terhadap arwah nenek moyang, dan kepercayaan terhadap spirit yang ada di alam sekitar. Kemudian kerap tumpang tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkretisme Hindu-Budha Indonesia. (Claire Holt diterjemahkan oleh RM. Soedarsono, 2000)

Tumbuh dan berkembangnya kebudayan Hindu-Budha di Indonesia kemudian melahirkan kesenian berupa seni ukir dengan beraneka ragam hias, dan patung perwujudan dewa-dewa. Dalam sistem sosial kemudian lahir sistem pemerintahan kerajaan yang berdasarkan kepada kepercayaan Hindu seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat, Mataram Kuno Jawa Tengah. Hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan maha patih Gajah Mada yang tersohor, yang kemudian membawa pengaruh Hindu ke Bali. Seni ukir tradisional masih diwarisi hingga saat ini.

Peran seni kriyapun menjadi semakin berkembang tidak saja sebagai komponen dalam hal kepercayaan/agama, namun juga menjadi konsumsi golongan elit bangsawan yaitu sebagai penanda status kebangsawanan. Kondisi tersebut menjadikan kriya sebagai seni yang bersifat elitis karena menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung tumbuh pada kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.

Akan tetapi keadaannya berbeda pada masa modern, dimana tingkatan sosial seperti pada masa kerajaan yang disebut “kasta” sudah tidak lagi eksis. Kalaupun ada tingkatan sosial kini tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi kemapanan ekonomi kini menjadi penanda bagi status seseorang. Artinya tarap ekonomi yang dimiliki seseorang dapat membedakan posisi mereka dari orang lain, secara sederhana kekuasan sekarang ditentukan oleh kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang. Dalam sistem masyarakat modern kondisinya telah berubah kaum elit yang dulunya ditempati oleh kaum bangsawan (ningrat), sekarang digantikan kalangan konglomerat (pemilik modal). Kondisi ini membawa dampak bagi pada posisi kriya, karena kini kriya mulai kehilangan struktur sosial yang menopang eksistensinya seperti pada masa lalu.

Situasi ini menjadikan kriya tidak lagi menjadi seni yang spesial karena posisi terhormatnya di masa lalu kini sudah terancam tidak eksis lagi, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan masa lalu. Terlebih lagi dalam industri budaya seperti sekarang kedudukan kriya kini tidak lebih sebagai obyek pasar, yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan demi kepentingan ekonomi. Kriya kini mengalami desakralisasi dari posisi yang terhormat di masa lalu, yang adiluhung merupakan artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.

Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Inilah tugas berat insan kriya kini. Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan jaman, konsep kriyapun terus berkembang. Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Kriya kini menjelma menjadi hanya pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KARYA SAYA

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Blog di WordPress.com.