Semar sebagai sumber ide

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Penciptaan

Sejalan dengan meningkatnya ragam kebutuhan dan swa-sembada manusia, maka dituntut pula pengembangan daya pikir dan daya cipta manusia. Kreativitas dan inovasi yang terus menerus berupaya untuk menemukan hal-hal baru demi memenuhi kepuasan hidup manusia. Hal ini membidani lahirnya istilah kriya seni, sehingga mendorong untuk selalu menciptakan hal-hal yang baru, baik berupa benda-benda yang memiliki nilai fungsional praktis maupun benda hias semata.

Faktor perencanaan dan desain sangat menentukan hasil akhir perwujudan karya kriya seni. Upaya membuat benda atau sebuah karya sedemikian rupa, merupakan hal yang tidak mudah. Berkaitan hal tersebut, maka proses desain beserta seluruh tahapan pencarian sumber ide menjadi dasar untuk memperkuat nilai-nilai estetika maupun nilai-nilai filosofis dari karya yang akan diciptakan.

Dengan keterampilan dan serta kemampuan daya cipta, rasa dan karsa manusia dapat menghasilkan beraneka ragam benda yang mempunyai masing-masing fungsi dan masing-masing pula bahan bakunya. Sedangkan dalam penciptaan karya ini menggunakan bahan tanah liat dengan finishing glasir. Benda fungsional yang dibuat berupa jam yang peletakannya yaitu diatas meja, atau dapat juga sebagai hiasan interior ruangan.

Sebuah jam tanpa disadari, ia telah melakukan pekerjaan yang terus-menerus dan tanpa henti, namun ia mampu dan bahkan tak pernah mengeluh. Artinya: “Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan ternyata kita bisa melakukannya”.

Tokoh Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya,  Bebadra = Membangun sarana dari dasar, dan Naya = Nayaka = Utusan mangrasul. Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia. Sedangkan, “kuncung semar”, yang dalam pribahasa jawa kuno, maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

  1. B.     Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dalam penciptaan karya ini adalah sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk mengenal dan memperdalami tentang kerajinan-kerajinan dari tanah liat dan mengaplikasikannya
  2. Eksplorasi bentuk dari teknik Slabing.
    1. Pengkayaan produk kriya yang memenuhi aspek fungsional, dekoratif dan estetis serta filosifis.

Adapun manfaat kandung didalamnya adalah:

  1. Bagi seniman : menjadi media penyampaian aspirasi,
  2. Bagi seniman lain : media pembelajaran dan sebagai refrensi,
  3. Umum : dijadikan untuk mengetahui waktu/sebagai interior suatu ruangan.
  1. C.      Metode Penciptaan

Metode yang digunakan dalam pembuatan karya tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pemilihan Tema

Merupakan bagian dari proses pemilihan tema yang dijadikan sebagai dasar konsep untuk sebuah karya seni.

  1. Pengumpulan Data/Referensi

Merupakan proses pengumpulan referensi-referensi yang berkaitan dengan tema, yang diperoleh secara primer maupun browsing, dimaksudkan untuk melengkapi data yang kemudian digunakan sebagai acuan dalam pembuatan karya tesebut.

  1. Penentuan Bentuk

Merupakan kegiatan menentukan bentuk dari suatu karya seni yang akan diwujudkan melalui proses perhitungan dari berbagai aspek kesenian.

  1. D.     Proses Penciptaan

Proses penciptaan/pembuatan karya tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Alat dan Bahan
    1. Alat:
  • Cuter
  • Senar
  • Wire modelling tools
  • Wood modelling tools
  • Banding wheel
  • Kuas ukuran 0.3 & 0.8
  • Triplek (Alas pembentukan)
  • Rol kayu
  • Sponges/Busa
  • Mangkok
  • Penggaris
  • Gunting
  • Bilah kayu
  • Pensil
  1. Bahan:
  • Tanah liat
  • Slip (tanah liat yang dihaluskan dengan campuran air).
  1. Teknik pengerjaan
    1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan,
    2. Membuat desain pada kertas HVS,
    3. Mengulet lanah liat, dengan tujuan membuang udara yang terdapat didalamnya.
    4. meletakkan tanah liat diatas triplek, lalu meratakan/melempengkan dengan menggonakan roll kayu dengan diletakkan bilah kayu pada sisi samping kanan dan kiri, supaya menahan roll kayu agar mendapatkan hasil yang rata dan halus,
    5. Membuat pola pada tanah liat yang telah rata menggunakan pensil dan memakai mal dari karton,
    6. Memotong lempengan tanah liat sesuai pola yang telah dibuat menggunakan cuter,
    7. Ambil potongan lempengan tanah liat yang telah berpola dengan menggunakan senar yang berfungsi untuk memotong bagian bawah yang lengket dengan triplek,
    8. Menyambungkan antara sisi satu dengan sisi-sisi yang lainnya secara bertahap dengan cara menggoreskan bagian-bagian yang akan disambung menggunakan wood modelling tool, kemudian diolesi slip tanah liat menggunakan kuas (berfungsi sebagai perekat/lem),
    9. Menyempurnakan bentuk yang telah dibuat dengan merapihkan sisi-sisi permukaanya dengan menggunakan wire modelling tool dan kuas yang setangah basah,
    10. Mengeringkan dengan cara diangin-anginkan,
    11. Pembakaran menggunakan teknik double fireing (duakali pembakaran), pembakaran pertama yaitu pembakaran biscuit, dan kemudian dibakar lagi setah melalui proses finishing.
  1. E.      Deskripsi Karya
    1. Bentuk :
      1. Lancip/kuncung = maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
      2. Batu bata = “ingin menjadi sesuatu”.

Maksudnya adalah sebuah batu bata hanyalah sebuah bata, tapi jika sebuah batu bata di gabung dengan batu bata lain, maka bisa menghasilkan sebuah bangunan yang indah, dan bahkan menjadi sebuah situs sejarah.

Begitu juga dengan kita, sebagai serang manusia, kita harus memiliki filosofi batu batu “ingin menjadi sesuatu”, tidak harus menjadi seseorang yang hebat, berkuasa, kaya ataupun dihormati, melainkan menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain merasa senang dan terbantu dengan keberadaan kita sebagai seorang manusia. seperti halnya sebuah batu bata yang menjadi sebuah bangunan, mereka ingin berguna bagi semua manusia yang berteduh di dalam sebuah bangunan, yang tidak lain adalah kumpulan dari tiap batu bata.

  1. Warna :
    1. Hijau = Warna hijau termasuk dalam kelas warna ‘dingin’ dan membawa kesegaran pada mata. Hijau melambangkan kesegaran, kesehatan, kealamian, dan pembaharuan.

b.Coklat = Warna ini merupakan warna dari tanah dan bumi, melambangkan kepercayaan, kedewasaan, dan daya tahan. Warna natural ini membawa kenyamanan bagi sekelilingnya sehingga banyak digunakan untuk mendekorasi ruangan.

  1. Teknik : Slabing/Lempeng

Teknik lempeng digunakan untuk membuat bentuk-bentuk utamanya bentuk yang memiliki sudut, seperti bentuk kubus, kotak, persegi panjang, segitiga, segi lima , hexagon dan lain sebagainya.

Didalam teknik lempeng di bedakan menjadi 2 jenis tanah :

  • Lempeng lunak (soft slabbing),
  • Lempeng “keras” (hard slabbing)

Jenis lempengan dengan tanah lunak sangat responsive (memudahkan untuk di bentuk), folding (dapat dilipat), crumpling (keriput/kusut), frilling (rumbai-rumbai) dan mudah untuk dibengkokan. Teknik ini jika di kriya tekstil hampir seperti membuat baju atau seni melipat kertas (origami). Sedangkan lempeng “keras” sama seperti joinery (menyambung/merangkai).

  1. Finishing : Glasir

Glasir merupakan material yang terdiri dari beberapa bahan tanah atau batuan silikat dimana bahan-bahan tersebut selama proses pembakaran akan melebur dan membentuk lapisan tipis seperti gelas yang melekat menjadi satu pada permukaan badan keramik.

Glasir merupakan kombinasi yang seimbang dari satu atau lebih oksida basa (Flux), Oksida Asam (Silika), dan Oksida Netral (Alumina), ketiga bahan tersebutmerupakan bahan utama pembentuk glasir yang dapat disusun dengan berbagai kompoisisi untuk suhu kematangan glasir yang dikehendaki.

Dalam pengertian yang sederhana untuk membuat glasir diperlukan tiga bahan utama, yaitu :

  • SILIKA: berfungsi sebagai unsur penggelas (pembentuk kaca).

Silika (SiO2), juga disebut Flint atau Kwarsa yang akan membentuk lapisan gelas bila mencair dan kemudian membeku. Silika murni berbentuk menyerupai kristal, dimana apabila berdiri sendiri titik leburnya sangat tinggi antara yaitu 16100 C – 17100 C.

  • ALUMINA: berfungsi sebagai unsur pengeras

Al2O3 digunakan untuk menambah kekentalan lapisan glasir, membantu membentuk lapisan glasir yang lebih kuat dan keras serta memberikan kestabilan pada benda keramik. Yang membedakan glasir dengan kaca/gelas adalah kandungan aluminanya yang tinggi.

  • FLUX : berfungsi sebagai unsur pelebur (peleleh).

Digunakan untuk menurunkan suhu lebur bahan-bahan glasir. Flux dalam bentuk oksida atau karbonat yang sering dipakai adalah ; timbal, boraks, sodium/natrium, potassium/kalium, lithium, kalsium, magnesium, barium, strontium, bersama-sama dengan oksida logam seperti : besi, tembaga, kobalt, mangaan, krom, nikel, tin, seng, dan titanium akan memberikan warna pada glasir, juga dengan bahan yang mengandung lebih sedikit oksida seperti : antimoni, vanadium, selenium, emas, kadmium, uranium.

  1. F.      Simpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan mengenai hal-hal pokok berkaitan dengan karya tersebut, adalah sebagai berikut :

  1. Karya ini dibuat untuk pengkayaan produk kriya yang memenuhi aspek fungsional, dekoratif dan estetis serta filosifis.
  2. Tema diambil dari bentuk rambut kuncung semar.
  3. Teknik pembuatan menggunakan Teknik Slab/Lempeng.
  4. Glasir merupakan campuran oksida basa (Flux), Oksida Asam (Silika), dan Oksida Netral (Alumina), yang digunakan untuk memfinishing keramik.
Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: