ANALISIS KONOTASI DAN DENOTASI PADA KAIN KAPAL LAMPUNG TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

Oleh:
DEDDY IRAWAN

palepai_det-centre

Gambar Kain Pelepai.

(Foto 1: Yudhi Sulistyo, 2012).

Lokasi: Festival Krakatau ke XXII

Sumber: http://www.tribaltextiles.info/community/files/xpalepaidetcentre205.jpg.pagespeed.ic.jDdGwv1Ugj.jpg

DENOTASI  : Kain Kapal atau Ship Cloth atau Boat Cloth adalah kain tradisional berbentuk menyerupai sarung yang dibuat dari tenunan benang katun (kapas) yang merupakan salah satu kain tradisional asal Lampung, sesuai dengan namanya, kain ini memiliki motif kapal sebagai motif utamanya. Kain kapal memiliki motif yang sangat khas, biasanya terdiri dari tiga bagian, yang pertama adalah motif border atau batas. Motif border biasanya terdiri dari satu, dua sampai tiga lapis dengan motif yang berbeda antar lapisan. Kemudian yang kedua adalah motif utama, motif utama ini biasanya terdiri dari kapal (jung), rumah, manusia dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Motif ini mengisi bagian utama dari kain kapal. Dan yang ketiga adalah motif filler atau pengisi, motif jenis ini biasanya mengisi daerah-daerah kosong pada bagian antar motif utama. Motif jenis ini juga bisanya berbentuk segitiga, kotak dan helaian pakis motif lain-lain.

Kain Kapal dibagi menjadi tiga macam sesuai dengan panjangnya kain tersebut:

1. Nampan, panjangnya biasanya kurang dari satu meter, biasa digunakan sebagai penutup atau pelapis nampan untuk seserahan pada acara lamaran maupun pernikahan di Lampung. Kain kapal jenis ini biasanya tidak digunakan oleh bangsawan.

2. Tatibin, biasanya panjangnya satu meteran dan digunakan sebagai hiasan dinding dan kadang kadang juga digunakan sebagai penutup seserahan.

3. Pelepai, ini adalah kain kapal yang paling panjang, panjangnya biasanya sampai tiga meter. Kain ini diguanakan sebagai hiasan dinding, namun biasanya kain kapal jenis ini hanya dimiliki orang-orang yang memiliki pengaruh besar di adat.

KONOTASI  :  Kain kapal dipakai sebagai perlambangan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Oleh karena itu, dalam pemaknaannya kain kapal terdiri dari tiga bagian, alam bawah, alam manusia dan alam atas. Kapal juga sebagai perlambangan kehidupan manusia yang bergerak dari satu titik menuju ke titik akhir. Motif kapal pada kain kapal dianggap sebagai perjalan roh orang yang baru meninggal menuju alam baka. Sehingga, pada masa ini motif-motif pada kain kapal cenderung diwarnai dengan warna-warna gelap. Cerita tentang tiga dunia juga diartikan sebagai dunia manusia, dunia atas (surga/nirwana) dan bawah (neraka).

Kain kapal selalu dihadirkan dalam beberapa titik penting dalam keidupan manusia yaitu: kelahiran, pernikahan dan kematian. Sebelum islam masuk, kematian dipandang sebagai titik terpenting dalam kehidupan oleh masyarakat Lampung sehingga kain kapal pun dianggap sebagai pelayaran roh menuju alam baka. Setelah islam masuk, justru kehidupan manusia adalah proses penting yang menentukan layak atau tidaknya seseorang untuk mencapai surga. Sehingga, setelah islam masuk kain kapal dianggap sebagai cerita perjalanan hidup anak manusia dari hidup sampai mati.

Iklan
Categories: Artikel,luckydeddy | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: