MENGINTEGRASIKAN MAZHAB PENDIDIKAN (ESENSIALISME, EKSISTENSIALISME, DAN PROGRESIVISME) DALAM PENDIDIKAN SENI

Oleh:
DEDDY IRAWAN

1. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana demi meningkatkan potensi, kemampuan dan kualitas sumber daya manusia. Selain itu tidak kalah pentingnya yakni pendidikan sebagai pembentukan sebuah karakter. Karakter disini sangat penting membentuk pribadi yang utuh, sebagai pegangan untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan. Adapun dalam GBHN Tahun 1999 mencantumkan tentang tujuan pendidikan nasional: “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan yang maha Esa, kecerdasan, keterampilan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

Pendidikan merupakan proses pewarisan nilai-nilai luhur, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter dari orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda atau sesamanya mulai lahir hingga kematian. Dalam garis besar dapat dituliskan beberapa aspek yang biasanya paling dipertimbangkan dalam proses pendidikan tersebut yakni: penyadaran, pencerahan, pemberdayaan dan perubahan perilaku. Pendidikan merupakan Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum, penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentinganyang terkait dengan pendidikan.

Pendidikan seni akan menerapkan beberapa dari aliran-aliran mazhab pendidikan tersebut dengan tujuan menjawab akan kesenjangan pengetahuan dan perilaku manusia yang terjadi. Yang mana pendidikan seni itu sendiri mengajarkan akan kelembutan ‘rasa’ atau perasaan, mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan pembentukan karakter yang kuat. Sehingga dapat menciptakan seseorang yang berkualitas dalam ilmu-ilmu pengetahuan dan mempunyai karakter yang kuat dalam diri, memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan, dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai kondisi lingkungan.

Masalah-masalah yang muncul dari latar belakang yang telah dipaparkan dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Mazhab filsafat pendidikan mana yang cocok untuk diterapkan pada pendidikan seni?
  • Mengapa dan perlu mengintegrasikan beberapa mazhab pendidikan dalam pendidikan seni?

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah:

  • Memilih mazhab pendidikan yang cocok untuk diterapkan dalam pendidikan seni.
  • Mengetahui perubahan yang terjadi dalam pendidikan seni setelah mengintegrasikan beberapa mazhab di dalamnya.

Serta manfaat yang diperoleh adalah:

  • Dapat menjadikan pembelajaran bagi penulis dan pembaca tentang pemilihan macam-macam mazhab filsafat pendidikan dengan alasan dan penyesuaiannya dalam pendidikan seni.
  • Dapat menjadikan pengetahuan akan maksud terbentuknya aliran-aliran tersebut, serta mampu mengintegrasikan beberapa mazhab filsafat pendidikan dalam pendidikan seni.

2. PENDIDIKAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (KBBI, 1991). Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Siregar dan Nara, 2014 : 3). Pendidikan menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak atau karakter, dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan berfungsi sebagai sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi. Pernyataan salah seorang pemikir behavioris Lester Frank Ward, tentang pentingnya pendidikan sebagai faktor pembentukan manusia seutuhnya adalah sebagai berikut:

Setiap anak dilahirkan didunia, hendaknya dipandang oleh masyarakat ibarat bahan mentah yang harus diolah dalam pabrik. Alam tak dapat diandalkan dalam pengembangan kemampuan Individu. Pengembangan kemampuan individu harus direncanakan dan sebagian besar rencana tersebut harus dilaksanakan dalam sekolah yang baik (Soyomukti, 2015 : 35-36.).

Pendidikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Dewasa di sini dimaksudkan adalah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, pedagogis, dan sosiologis agar mencapai tingkat hidup atau kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.

Pada era sekarang ini kreativitas perlu dikembangkan dan dikenalkan sejak usia dini, karena kreativitas dapat memecahkan masalah apa pun. Tindakan kreatif yang mengalahkan kebiasaan melalui orisinalitasnya, mengatasi segalanya. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara variasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan. Kreativitas sangat penting untuk ditingkatkan dalam diri anak khususnya bagi anak usia dini. Dengan kreativitas anak mampu mengekspresikan ide dan gagasan yang ada dalam dirinya, sehingga membawa dampak pada anak untuk terlatih menyelesaikan suatu masalah dari berbagai sudut pandang dan anak mampu melahirkan berbagai ide gagasan. Perkembangan kreativitas anak usia dini tidak hanya diperoleh dari faktor orangtua saja. Namun, budaya pola pengasuhan anak serta lingkungan bisa berpengaruh kepada anak.

Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan dalam penerapannya. Oleh karena itu dalam praktek penerapannya dapat disesuaikan dengan jenis, konsep, dan tujuan pada mata kuliah tertentu. Penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentinganyang terkait dengan pendidikan.

3. MENGINTEGRASIKAN MAZHAB PENDIDIKAN (ESENSIALISME, EKSISTENSIALISME, DAN PROGRESIVISME) DALAM PENDIDIKAN SENI

Pendidikan seni merupakan bagian dari peradaban. Pendidikan seni telah ada sebelum manusia mengenal peradaban modern, yang tujuannya selalu mengalami perubahan. Di awal kehadirannya sampai pertengahan abad ke-20, pendidikan seni difungsikan untuk penularan bakat seni kepada para generasi, yang tujuannya untuk menghasilkan seorang yang ahli dalam bidang seni (seniman). Sistem pendidikan seni di awal sejarahnya ini, prosesnya banyak berbasis pada sistem aprentisip, sanggar, atau studio kemudian bergeser ke sistem akademik pendidikan. Sistem pendidikan seni model pertama ini menganut prinsip ‘pendidikan di dalam seni’ (education in arts). Sistem pendidikan seni seperti ini, dapat dikatakan merupakan aset budaya. Dalam perkembangannya, terutama semenjak pertengahan abad ke-20, pendidikan seni mulai mewacanakan bukan penularan seni, tetapi pemfungsian seni yang tujuannya memanfaatkan seni sarana untuk membantu menumbuh kembangkan individu peserta didik dalam rangka mempersiapkan hari depannya. Inilah yang disebut dengan fungsi seni sebagai aset pendidikan atau fungsi didik seni (education through arts).

Pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan agar mampu menguasai kemampuan berkesenian sesuai dengan peran yang harus dimainkan (Soehardjo, 2012 : 13). Pendidikan seni di Indonesia boleh jadi merupakan istilah yang diadopsi dari “art education” (terutama yang berkembang di Amerika) dengan makna yang tidak terlalu ketat, karena bergantung pada kepentingan, jenis, dan bentuk pendidikannya. Ditinjau dari sasarannya terdapat dua perbedaan dalam pendiikan seni itu sendiri, yang pertama mengarahkan agar siswa memiliki kompetensi yang terkait dengan kesenimanan atau aktor pelaku seni (tekstual), seperti memiliki kompetensi penghayatan seni, kemahiran dalam memproduksi karya seni, dan piawai mengkaji seni. Justifikasi tekstual ini menempatkan seni sebagai suatu yang esensial. Yang kedua yakni, mengarahkan agar siswa mempunyai kompetensi berkesenian sebagai bentuk pengalaman belajar dalam rangka pendewasaan potensi individu sehingga dapat menjadi manusia seutuhnya (kontekstual) (Jazuli, 2008 : 15).

Pendidikan seni mempunyai peran penting dalam pembentukan watak dan karakter, karena merupakan bagian dari rumpun pendidikan nilai. Pendekatan belajar dengan seni adalah pendekatan yang dilandasi oleh asumsi bahwa seni sebagai cara pandang – wahana (penghubung) bagi siswa untuk memperoleh berbagai informasi, pengalaman, dan pemahaman mengenai berbagai fenomena yang ada atau terjadi di sekitarnya. Sebagai cara pandang, seni menjadi wahana bagi pengembangan citra, ide-ide kreatif yang berkaitan dengan substansi objek dan cara menyampaikannya (Jazuli, 2008 : 105).

Terkait dengan landasan dan konsep dalam pendidikan seni, terdapat beberapa pandangan mazhab yang menurut penulis dapat diintegrasikan dengan pendidikan seni, yaitu: Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme. Berikut definisi tentang tiga mazhab tersebut:

  1. Aliran Esensialisme

Aliran esensialisme adalah aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman renaissance, dasar pendidikan ini lebih fleksibel, terbuka untuk perubahan, toleran, tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu dan berpijak pada nilai nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama. (Zulhairii, 1991:21). Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat ini yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagi pendukung tetapi tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing masing.

  • Pandangan ontologi esensialisme

Sifat yang menonjol adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata nilai yang tiada celah dengan kata lain, bagaimana bentuk, sifat, kehendak, dan cita cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat.

  • Pandangan epistemologi esensialisme

Teori kepribadian manusia sebagai refleksi tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Sebab jika mamnusia mampu menyadari bahwa realita sebagai mikrikosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti menegtahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. Berdasarkan kualitas inilah manusia memproduksi pengetahuannya secara tepat dalam benda benda, ilmu alam, biologi, sosial, dan agama.

  • Pandangan aksiologi esensialisme

Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Bagi aliran ini, nilai nilai berasal dan tergantung pada pandangan pandangan idealisme dan realisme. Dengan kata lain, esensialisme terbina oleh kedua syarat tersebut.

  • Pandangan esensialisme mengenai belajar

Idealisme adalah falsafah hidup memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku (pribadi). Menurut idealisme , pada taraf permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Realisme  mencerminkan adanya dua jenis determinsi , yaitu mutlak dan terbatas.

  • Pandangan esensialisme mengenai kurikulum

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaknya berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan inilah kegiatan pendidikan dilakukan.

  1. Aliran Progresivisme

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup.

  • Asas belajar

John dewey memandang bahwa pendidikan sebagi proses dan sosialisasi (suwarno, 1992 : 62-63). Maksudnya adalah sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadian kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah anatara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup d sekolah saja.

  • Pandangan kurikulum progresivisme

Sikap progresivisme, memandang segala sesuatu berasaskan fleksibiltas dan dinamis, yang tercermin dalam pandangannya mengenaikurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental, dan adanya rencana dan susunan yang teratur.

  • Pandangan progresivisme tentang budaya

Memiliki konsep manusia memiliki kemapuan kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya, telah mempengaruhi pendidikan dengan pembaruan pembaruan pendidikan untuk maju. Sehingga semakin tinggi tingkat berpiirnya, manusia semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Akibatnya ananak tumbuh menjadi dewasa, masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang maju.

  1. Aliran Eksistensialisme

Menekankan kepada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Melihat kehidupan bukan sebagai sesuatu yang sudah siap terprogram oleh semacam kekuatan yang lebih tinggi (TUHAN) dengan makna dan tujuan, melainkan apa yang kita ciptakan sendiri sebagai mahluk individu. Adpun ciri pokok dari eksistensialisme :

  • Aktor bukan pengamat

Manusia tidak hidup dengan mundur dan mengobservasinya dari jauh, hanya akan memahami hidup dalam keterlibatan

  • Esensi dan eksistensi

Dalam kehidupan manusia, eksistensi mendahului daripada esensi manusiaitu sendiri

  • Hidup ke depan

Kita selalu keluar dari kita sendiri, mencari sesuatu, merencanakan, mengorganisir kedepan.

  • Kebebasan dan tanggung jawab

Eksistensialisme menantang kita untuk mengambil tanggung jawab atas pilihan yang kita pilih dan yang akan kita rintis kedepan. Apa yang kita lakukan adalah membentuk diri kita seperti adanya.

Aliran esensialisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini mengajarkan atau mewariskan budaya-budaya moral yang terdahulu, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya dalam kehidupan manusia. Sehingga melahirkan siswa yang berbudaya dan berjiwa seni yang dapat memelihara nilai-nilai secara turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri kepada masyarakat (Sunarya, 2012 : 79). Dapat meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan bertahan dalam kurun waktu lama. Serta dapat mengapresiasi karya seri, baik rupa maupun pertunjukan dengan baik dan dapat menghargai keberaneka ragaman karya seni dan budaya yang ada.

Aliran eksistensialisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna, yang berarti mengajarkan bahwa setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri serta berusaha memberikan bekal pengalaman yang luas dan komperhensif dalam semua bentuk kehidupan (Gandhi, 2011 : 189). Sehingga mencetak siswa yang yang percaya diri dalam bertindak, dan mempunyai kebebasan dalam berekspresi tentang seni.

Aliran progresivisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini mengajarkan dan membekali siswa dengan strategi-strategi pemecahan masalah untuk mengatasi tantangan kehidupan dan untuk menemukan kebenaran yang relevan pada saat ini. Sehingga mencetak siswa yang kreatif dalam berpikir, menciptakan inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan teknologi dan zaman, serta mampu memecahkan masalah (problem solver) tentang seni yang kemudian dapat bermanfaat untuk kehidupan siswa (Sunarya, 2012 : 70).

Pengintegrasian 3 (tiga) mazhab filsafat pendidikan yakni: Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme dengan pendidikan seni, menurut penulis selain untuk membentuk profil siswa yang mampu mengasah (mengolah), mengasihi (menyayangi), mengasuh (Memelihara) dan mengembangkan potensi multi kecerdasannya, juga akan dapat membentuk para anak didik yang mempunyai jiwa besar dengan karakter kuat pada dirinya, pendirian yang teguh, mempunyai budi pekerti yang baik, menghargai karya orang lain, dengan berlandaskan ajaran-ajaran tradisional yang penuh dengan pewarisan nilai-nilai luhur serta tidak menutup dirinya akan perubahan zaman sehingga dapat berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan berbudaya dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

4. PENUTUP

Dalam Pembahasan di atas dapat disimpulkan ke dalam beberapa point antara lain:

  1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
  2. Pendidikan harus mampu merubah tingkah laku peserta didik menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
  3. Kreativitas perlu dikembangkan dan dikenalkan sejak usia dini, karena kreativitas dapat memecahkan masalah apa pun. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara variasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan.
  4. Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum, penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.
  5. Pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan agar mampu menguasai kemampuan berkesenian sesuai dengan peran yang harus dimainkan.
  6. Ditinjau dari sasarannya terdapat dua perbedaan dalam pendiikan seni itu sendiri, yang pertama pendidikan tentang seni itu sendiri (education in arts) mengarahkan agar siswa menjadi aktor pelaku seni (tekstual). Yang kedua, pendidikan melalui seni (education thourgh arts) mengarahkan agar siswa mempunyai kompetensi berkesenian sebagai bentuk pengalaman belajar dalam rangka pendewasaan potensi individu sehingga dapat menjadi manusia seutuhnya (kontekstual).
  7. Pengintegrasian 3 (tiga) mazhab filsafat pendidikan (Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme) dengan pendidikan seni, akan mencetak para anak didik yang mempunyai jiwa besar dengan karakter kuat pada dirinya, pendirian yang teguh, mempunyai budi pekerti yang baik, dengan berlandaskan ajaran-ajaran tradisional yang penuh dengan pewarisan nilai-nilai luhur serta tidak menutup dirinya akan perubahan zaman sehingga dapat berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan berbudaya dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

Dalam pemabahasan dalam makalah ini terdapat beberapa saran yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Pendidikan yang bersifat kreatif dan pendidikan sebagai pembentukan karakter tentunya harus ditanamkan sejak usia dini, agar peserta didik dapat survive dalam kehidupannya dan selalu ada ide-ide kreatif untuk memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupannya.
  2. Pendidikan seni perlu dikembangkan dan disebar luaskan karena pendidikan seni sangat penting dalam kehidupan yakni sebagai pendidikan nilai, dimana di dalamnya terdapat ajaran kelembutan ‘rasa’ atau perasaan, mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan pembentukan karakter yang kuat.
  3. Makalah ini perlu adanya koreksi ulang, sehingga jika ingin mengutip atau mempelajarinya lebih baik tanyakan terhadap orang yang lebih mengetahui dalam bidang ini atau diskusikan terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Gandhi, Teguh Wangsa. 2011. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Jalaluddin & Idi Abdullah. 2013. Filsafat Pendidikan. Jakarta:  Rajawali Pers.

Jazuli, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Semarang: Unesa University Press.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991.

Siregar, Evelin & Hartini Nara. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Soehardjo, A. J. 2012. Pendidikan seni dari Konsep Sampai Program. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soyomukti, Nuraini. 2015. Teori-Teori Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Suharto, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Sunarya, Yaya. 2012. Filsafat Pendidikan. Bandung: Arvino Raya.

Iklan
Categories: Artikel,luckydeddy | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: