Pancasila dan Kriminalitas

Pancasila yang ditetapkan sebagai dasar negara berarti menjadi dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara dan seluruh warga negara Indonesia. Dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 alenia keempat terdapat rumusan sila-sila pancasila sebagai dasar negara Indonesia secara yuridis-konstitusional sah, berlaku dan mengikat seluruh lembaga negara, lembaga masyarakat, dan setiap warga negara, tanpa terkecuali. Pancasila sebagai ideologi negara, dapat dimaknai sebagai sistem kehidupan nasional yang meliputi aspek etika/moral, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan dalam rangka pencapaian cita-cita dan tujuan bangsa yang berlandaskan dasar negara. Namun sebagai falsafah negara, pancasila belum dapat dipahami sebagai sebuah ideologi dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari makin maraknya perilaku-perilaku menyimpang dari nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri.

Dekadensi Moral
Dewasa ini dapat kita lihat secara nyata masyarakat telah mengalami dekadensi moral dalam kehidupannya. Banyak kejadian-kejadian kriminalitas yang dilakukan oleh saudara setanah air kita seperti membunuh, mencuri, merampok, memperkosa dan lain sebagainya. Manusia seperti sudah kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, tidak lagi dapat berpikir bahwa tindakannya dapat merugikan orang lain bahkan negara, mereka hanya memikirkan kepentingannya diri sendiri. Mirisnya pelaku kriminalitas tidak terbatas oleh umur dan tingkat pendidikan, dari remaja hingga orang dewasa, dan dari yang tidak berpendidikan hingga orang-orang berpendidikan. Seperti sudah tidak lagi mempunyai dasar dan filter-diri dalam kehidupannya.
Pengaruh globalisasi dituding sebagai akar permasalahan dari dekadensi moral pada kehidupan saat ini, lapisan masyarakat dalam kehidupannya telah mengalami multi krisis. Renggangnya ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat, yang di dalamnya terdapat tradisi-tradisi, adat-istiadat, bahasa dan lain sebagainya yang berlaku dalam masyarakat kini tidak lagi berfungsi dengan baik, kehidupan sosial saat ini seakan acuh-tak acuh dan tidak perduli akan apa yang dilakukan oleh sesamanya. Berkembangnya kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia kini semakin menjamur seolah tanpa batasan, mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupannya. Media yang seharusnya memberikan unsur-unsur edukasi dalam setiap acaranya kini malah banyak menayangkan hal-hal yang tidak bermutu dan tidak pantas disaksikan, hal itu jelas berdampak besar pada konstruk berpikir yang pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan masyarakat dalam kesehariannya. Rapuhnya nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang menandai kemerosotan moral dalam bumi pertiwi. Pudarnya semangat gotong royong yang dikenal sebagai kekuatan bangsa kini semakin nyata, pancasila tidak lagi dapat menopang dengan kokoh pada setiap individu rakyatnya.


Membumikan Pancasila
Pancasila sebagai ideologi negara sudah tidak dapat dielakkan bahwa telah melekat di dalam setiap insan penduduk Indonesia. Pasalnya, pancasila sebagai dasar negara telah dikenalkan dan diajarkan di setiap instansi pendidikan dari mulai usia dini. Namun yang terjadi pancasila hanya sebagai natuur-wissenchaften (Jerman), suatu hal yang dilihat dari fisiknya saja sebagai kata-kata kering yang tak bermakna. Pancasila hanya diajarkan, dijelaskan dan dihafal. Dalam istilah yang dikemukakan Nietzsche adalah sebagai antikuaris, dapat diartikan sebagai benda kuno atau barang antik yang hanya berfungsi sebagai pajangan semata. Hal ini dilihat dari lemahnya penghayatan dan pengamalan dalam setiap butir pancasila, pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan, kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinnekaan dan kemajemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa, serta tidak berjalannya penegakan hukum secara adil dan optimal.
Menelisik dari sejarah dan tujuan dirumuskannya pancasila, dapat dikatakan bahwa pancasila sebagai titik-temu (common denominator) yang merupakan penyatuan dari berbagai ideologi, ras, agama dan golongan serta dapat berfungsi sebagai titik balik dan sebagai dasar yang mampu menyatukan masyarakat Indonesia. Kita sebagai rakyat Indonesia harus berkomitmen untuk menjadikan pancasila sebagai geistes-wiessenchaften (Jerman), suatu hal yang mempunyai ruh dan kaya akan makna yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai pancasila sebagai dasar dan ideologi harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Istilah Nietzsche adalah sebagai monumentalis, bahwa terdapat kebesaran dan keagungan yang terkandung dalam pancasila, bukan sekedar ‘memonumenkan’ tetapi mampu mewujudkan nilai-nilai kebesaran pancasila dalam kehidupan.
Pancasila bukan hanya sebuah konsep pemikiran semata yang hanya ada di awan, melainkan sebuah perangkat tata nilai yang sepatutnya dibumikan dan diwujudkan sebagai panduan dalam berbagai segi kehidupan. Jika seluruh individu masyarakat mampu mengamalkan secara konsisten dari nilai-nilai dan butir-butir yang terkandung di dalam setiap sila, maka dapat menopang pencapaian-pencapaian agung peradaban bangsa, bergotong royong, menghapuskan kekejian kriminalitas, saling menghargai-memahami antar sesama dan mampu menciptakan ‘bumi-surga’.

Iklan
Categories: Artikel, Artikel,luckydeddy, Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: