Artikel,luckydeddy

Pancasila dan Kriminalitas

Pancasila yang ditetapkan sebagai dasar negara berarti menjadi dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara dan seluruh warga negara Indonesia. Dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 alenia keempat terdapat rumusan sila-sila pancasila sebagai dasar negara Indonesia secara yuridis-konstitusional sah, berlaku dan mengikat seluruh lembaga negara, lembaga masyarakat, dan setiap warga negara, tanpa terkecuali. Pancasila sebagai ideologi negara, dapat dimaknai sebagai sistem kehidupan nasional yang meliputi aspek etika/moral, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan dalam rangka pencapaian cita-cita dan tujuan bangsa yang berlandaskan dasar negara. Namun sebagai falsafah negara, pancasila belum dapat dipahami sebagai sebuah ideologi dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari makin maraknya perilaku-perilaku menyimpang dari nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri.

Dekadensi Moral
Dewasa ini dapat kita lihat secara nyata masyarakat telah mengalami dekadensi moral dalam kehidupannya. Banyak kejadian-kejadian kriminalitas yang dilakukan oleh saudara setanah air kita seperti membunuh, mencuri, merampok, memperkosa dan lain sebagainya. Manusia seperti sudah kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, tidak lagi dapat berpikir bahwa tindakannya dapat merugikan orang lain bahkan negara, mereka hanya memikirkan kepentingannya diri sendiri. Mirisnya pelaku kriminalitas tidak terbatas oleh umur dan tingkat pendidikan, dari remaja hingga orang dewasa, dan dari yang tidak berpendidikan hingga orang-orang berpendidikan. Seperti sudah tidak lagi mempunyai dasar dan filter-diri dalam kehidupannya.
Pengaruh globalisasi dituding sebagai akar permasalahan dari dekadensi moral pada kehidupan saat ini, lapisan masyarakat dalam kehidupannya telah mengalami multi krisis. Renggangnya ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat, yang di dalamnya terdapat tradisi-tradisi, adat-istiadat, bahasa dan lain sebagainya yang berlaku dalam masyarakat kini tidak lagi berfungsi dengan baik, kehidupan sosial saat ini seakan acuh-tak acuh dan tidak perduli akan apa yang dilakukan oleh sesamanya. Berkembangnya kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia kini semakin menjamur seolah tanpa batasan, mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupannya. Media yang seharusnya memberikan unsur-unsur edukasi dalam setiap acaranya kini malah banyak menayangkan hal-hal yang tidak bermutu dan tidak pantas disaksikan, hal itu jelas berdampak besar pada konstruk berpikir yang pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan masyarakat dalam kesehariannya. Rapuhnya nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang menandai kemerosotan moral dalam bumi pertiwi. Pudarnya semangat gotong royong yang dikenal sebagai kekuatan bangsa kini semakin nyata, pancasila tidak lagi dapat menopang dengan kokoh pada setiap individu rakyatnya.


Membumikan Pancasila
Pancasila sebagai ideologi negara sudah tidak dapat dielakkan bahwa telah melekat di dalam setiap insan penduduk Indonesia. Pasalnya, pancasila sebagai dasar negara telah dikenalkan dan diajarkan di setiap instansi pendidikan dari mulai usia dini. Namun yang terjadi pancasila hanya sebagai natuur-wissenchaften (Jerman), suatu hal yang dilihat dari fisiknya saja sebagai kata-kata kering yang tak bermakna. Pancasila hanya diajarkan, dijelaskan dan dihafal. Dalam istilah yang dikemukakan Nietzsche adalah sebagai antikuaris, dapat diartikan sebagai benda kuno atau barang antik yang hanya berfungsi sebagai pajangan semata. Hal ini dilihat dari lemahnya penghayatan dan pengamalan dalam setiap butir pancasila, pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan, kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinnekaan dan kemajemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa, serta tidak berjalannya penegakan hukum secara adil dan optimal.
Menelisik dari sejarah dan tujuan dirumuskannya pancasila, dapat dikatakan bahwa pancasila sebagai titik-temu (common denominator) yang merupakan penyatuan dari berbagai ideologi, ras, agama dan golongan serta dapat berfungsi sebagai titik balik dan sebagai dasar yang mampu menyatukan masyarakat Indonesia. Kita sebagai rakyat Indonesia harus berkomitmen untuk menjadikan pancasila sebagai geistes-wiessenchaften (Jerman), suatu hal yang mempunyai ruh dan kaya akan makna yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai pancasila sebagai dasar dan ideologi harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Istilah Nietzsche adalah sebagai monumentalis, bahwa terdapat kebesaran dan keagungan yang terkandung dalam pancasila, bukan sekedar ‘memonumenkan’ tetapi mampu mewujudkan nilai-nilai kebesaran pancasila dalam kehidupan.
Pancasila bukan hanya sebuah konsep pemikiran semata yang hanya ada di awan, melainkan sebuah perangkat tata nilai yang sepatutnya dibumikan dan diwujudkan sebagai panduan dalam berbagai segi kehidupan. Jika seluruh individu masyarakat mampu mengamalkan secara konsisten dari nilai-nilai dan butir-butir yang terkandung di dalam setiap sila, maka dapat menopang pencapaian-pencapaian agung peradaban bangsa, bergotong royong, menghapuskan kekejian kriminalitas, saling menghargai-memahami antar sesama dan mampu menciptakan ‘bumi-surga’.

Categories: Artikel, Artikel,luckydeddy, Uncategorized | Tinggalkan komentar

MENGINTEGRASIKAN MAZHAB PENDIDIKAN (ESENSIALISME, EKSISTENSIALISME, DAN PROGRESIVISME) DALAM PENDIDIKAN SENI

Oleh:
DEDDY IRAWAN

1. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana demi meningkatkan potensi, kemampuan dan kualitas sumber daya manusia. Selain itu tidak kalah pentingnya yakni pendidikan sebagai pembentukan sebuah karakter. Karakter disini sangat penting membentuk pribadi yang utuh, sebagai pegangan untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan. Adapun dalam GBHN Tahun 1999 mencantumkan tentang tujuan pendidikan nasional: “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan yang maha Esa, kecerdasan, keterampilan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

Pendidikan merupakan proses pewarisan nilai-nilai luhur, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter dari orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda atau sesamanya mulai lahir hingga kematian. Dalam garis besar dapat dituliskan beberapa aspek yang biasanya paling dipertimbangkan dalam proses pendidikan tersebut yakni: penyadaran, pencerahan, pemberdayaan dan perubahan perilaku. Pendidikan merupakan Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum, penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentinganyang terkait dengan pendidikan.

Pendidikan seni akan menerapkan beberapa dari aliran-aliran mazhab pendidikan tersebut dengan tujuan menjawab akan kesenjangan pengetahuan dan perilaku manusia yang terjadi. Yang mana pendidikan seni itu sendiri mengajarkan akan kelembutan ‘rasa’ atau perasaan, mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan pembentukan karakter yang kuat. Sehingga dapat menciptakan seseorang yang berkualitas dalam ilmu-ilmu pengetahuan dan mempunyai karakter yang kuat dalam diri, memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan, dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai kondisi lingkungan.

Masalah-masalah yang muncul dari latar belakang yang telah dipaparkan dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Mazhab filsafat pendidikan mana yang cocok untuk diterapkan pada pendidikan seni?
  • Mengapa dan perlu mengintegrasikan beberapa mazhab pendidikan dalam pendidikan seni?

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah:

  • Memilih mazhab pendidikan yang cocok untuk diterapkan dalam pendidikan seni.
  • Mengetahui perubahan yang terjadi dalam pendidikan seni setelah mengintegrasikan beberapa mazhab di dalamnya.

Serta manfaat yang diperoleh adalah:

  • Dapat menjadikan pembelajaran bagi penulis dan pembaca tentang pemilihan macam-macam mazhab filsafat pendidikan dengan alasan dan penyesuaiannya dalam pendidikan seni.
  • Dapat menjadikan pengetahuan akan maksud terbentuknya aliran-aliran tersebut, serta mampu mengintegrasikan beberapa mazhab filsafat pendidikan dalam pendidikan seni.

2. PENDIDIKAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (KBBI, 1991). Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Siregar dan Nara, 2014 : 3). Pendidikan menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak atau karakter, dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan berfungsi sebagai sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi. Pernyataan salah seorang pemikir behavioris Lester Frank Ward, tentang pentingnya pendidikan sebagai faktor pembentukan manusia seutuhnya adalah sebagai berikut:

Setiap anak dilahirkan didunia, hendaknya dipandang oleh masyarakat ibarat bahan mentah yang harus diolah dalam pabrik. Alam tak dapat diandalkan dalam pengembangan kemampuan Individu. Pengembangan kemampuan individu harus direncanakan dan sebagian besar rencana tersebut harus dilaksanakan dalam sekolah yang baik (Soyomukti, 2015 : 35-36.).

Pendidikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Dewasa di sini dimaksudkan adalah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, pedagogis, dan sosiologis agar mencapai tingkat hidup atau kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.

Pada era sekarang ini kreativitas perlu dikembangkan dan dikenalkan sejak usia dini, karena kreativitas dapat memecahkan masalah apa pun. Tindakan kreatif yang mengalahkan kebiasaan melalui orisinalitasnya, mengatasi segalanya. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara variasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan. Kreativitas sangat penting untuk ditingkatkan dalam diri anak khususnya bagi anak usia dini. Dengan kreativitas anak mampu mengekspresikan ide dan gagasan yang ada dalam dirinya, sehingga membawa dampak pada anak untuk terlatih menyelesaikan suatu masalah dari berbagai sudut pandang dan anak mampu melahirkan berbagai ide gagasan. Perkembangan kreativitas anak usia dini tidak hanya diperoleh dari faktor orangtua saja. Namun, budaya pola pengasuhan anak serta lingkungan bisa berpengaruh kepada anak.

Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan dalam penerapannya. Oleh karena itu dalam praktek penerapannya dapat disesuaikan dengan jenis, konsep, dan tujuan pada mata kuliah tertentu. Penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentinganyang terkait dengan pendidikan.

3. MENGINTEGRASIKAN MAZHAB PENDIDIKAN (ESENSIALISME, EKSISTENSIALISME, DAN PROGRESIVISME) DALAM PENDIDIKAN SENI

Pendidikan seni merupakan bagian dari peradaban. Pendidikan seni telah ada sebelum manusia mengenal peradaban modern, yang tujuannya selalu mengalami perubahan. Di awal kehadirannya sampai pertengahan abad ke-20, pendidikan seni difungsikan untuk penularan bakat seni kepada para generasi, yang tujuannya untuk menghasilkan seorang yang ahli dalam bidang seni (seniman). Sistem pendidikan seni di awal sejarahnya ini, prosesnya banyak berbasis pada sistem aprentisip, sanggar, atau studio kemudian bergeser ke sistem akademik pendidikan. Sistem pendidikan seni model pertama ini menganut prinsip ‘pendidikan di dalam seni’ (education in arts). Sistem pendidikan seni seperti ini, dapat dikatakan merupakan aset budaya. Dalam perkembangannya, terutama semenjak pertengahan abad ke-20, pendidikan seni mulai mewacanakan bukan penularan seni, tetapi pemfungsian seni yang tujuannya memanfaatkan seni sarana untuk membantu menumbuh kembangkan individu peserta didik dalam rangka mempersiapkan hari depannya. Inilah yang disebut dengan fungsi seni sebagai aset pendidikan atau fungsi didik seni (education through arts).

Pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan agar mampu menguasai kemampuan berkesenian sesuai dengan peran yang harus dimainkan (Soehardjo, 2012 : 13). Pendidikan seni di Indonesia boleh jadi merupakan istilah yang diadopsi dari “art education” (terutama yang berkembang di Amerika) dengan makna yang tidak terlalu ketat, karena bergantung pada kepentingan, jenis, dan bentuk pendidikannya. Ditinjau dari sasarannya terdapat dua perbedaan dalam pendiikan seni itu sendiri, yang pertama mengarahkan agar siswa memiliki kompetensi yang terkait dengan kesenimanan atau aktor pelaku seni (tekstual), seperti memiliki kompetensi penghayatan seni, kemahiran dalam memproduksi karya seni, dan piawai mengkaji seni. Justifikasi tekstual ini menempatkan seni sebagai suatu yang esensial. Yang kedua yakni, mengarahkan agar siswa mempunyai kompetensi berkesenian sebagai bentuk pengalaman belajar dalam rangka pendewasaan potensi individu sehingga dapat menjadi manusia seutuhnya (kontekstual) (Jazuli, 2008 : 15).

Pendidikan seni mempunyai peran penting dalam pembentukan watak dan karakter, karena merupakan bagian dari rumpun pendidikan nilai. Pendekatan belajar dengan seni adalah pendekatan yang dilandasi oleh asumsi bahwa seni sebagai cara pandang – wahana (penghubung) bagi siswa untuk memperoleh berbagai informasi, pengalaman, dan pemahaman mengenai berbagai fenomena yang ada atau terjadi di sekitarnya. Sebagai cara pandang, seni menjadi wahana bagi pengembangan citra, ide-ide kreatif yang berkaitan dengan substansi objek dan cara menyampaikannya (Jazuli, 2008 : 105).

Terkait dengan landasan dan konsep dalam pendidikan seni, terdapat beberapa pandangan mazhab yang menurut penulis dapat diintegrasikan dengan pendidikan seni, yaitu: Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme. Berikut definisi tentang tiga mazhab tersebut:

  1. Aliran Esensialisme

Aliran esensialisme adalah aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman renaissance, dasar pendidikan ini lebih fleksibel, terbuka untuk perubahan, toleran, tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu dan berpijak pada nilai nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama. (Zulhairii, 1991:21). Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat ini yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagi pendukung tetapi tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing masing.

  • Pandangan ontologi esensialisme

Sifat yang menonjol adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata nilai yang tiada celah dengan kata lain, bagaimana bentuk, sifat, kehendak, dan cita cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat.

  • Pandangan epistemologi esensialisme

Teori kepribadian manusia sebagai refleksi tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi esensialisme. Sebab jika mamnusia mampu menyadari bahwa realita sebagai mikrikosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti menegtahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya. Berdasarkan kualitas inilah manusia memproduksi pengetahuannya secara tepat dalam benda benda, ilmu alam, biologi, sosial, dan agama.

  • Pandangan aksiologi esensialisme

Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Bagi aliran ini, nilai nilai berasal dan tergantung pada pandangan pandangan idealisme dan realisme. Dengan kata lain, esensialisme terbina oleh kedua syarat tersebut.

  • Pandangan esensialisme mengenai belajar

Idealisme adalah falsafah hidup memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku (pribadi). Menurut idealisme , pada taraf permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Realisme  mencerminkan adanya dua jenis determinsi , yaitu mutlak dan terbatas.

  • Pandangan esensialisme mengenai kurikulum

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaknya berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan inilah kegiatan pendidikan dilakukan.

  1. Aliran Progresivisme

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup.

  • Asas belajar

John dewey memandang bahwa pendidikan sebagi proses dan sosialisasi (suwarno, 1992 : 62-63). Maksudnya adalah sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadian kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah anatara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup d sekolah saja.

  • Pandangan kurikulum progresivisme

Sikap progresivisme, memandang segala sesuatu berasaskan fleksibiltas dan dinamis, yang tercermin dalam pandangannya mengenaikurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental, dan adanya rencana dan susunan yang teratur.

  • Pandangan progresivisme tentang budaya

Memiliki konsep manusia memiliki kemapuan kemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya, telah mempengaruhi pendidikan dengan pembaruan pembaruan pendidikan untuk maju. Sehingga semakin tinggi tingkat berpiirnya, manusia semakin tinggi pula tingkat budaya dan peradaban manusia. Akibatnya ananak tumbuh menjadi dewasa, masyarakat yang sederhana dan terbelakang menjadi masyarakat yang maju.

  1. Aliran Eksistensialisme

Menekankan kepada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Melihat kehidupan bukan sebagai sesuatu yang sudah siap terprogram oleh semacam kekuatan yang lebih tinggi (TUHAN) dengan makna dan tujuan, melainkan apa yang kita ciptakan sendiri sebagai mahluk individu. Adpun ciri pokok dari eksistensialisme :

  • Aktor bukan pengamat

Manusia tidak hidup dengan mundur dan mengobservasinya dari jauh, hanya akan memahami hidup dalam keterlibatan

  • Esensi dan eksistensi

Dalam kehidupan manusia, eksistensi mendahului daripada esensi manusiaitu sendiri

  • Hidup ke depan

Kita selalu keluar dari kita sendiri, mencari sesuatu, merencanakan, mengorganisir kedepan.

  • Kebebasan dan tanggung jawab

Eksistensialisme menantang kita untuk mengambil tanggung jawab atas pilihan yang kita pilih dan yang akan kita rintis kedepan. Apa yang kita lakukan adalah membentuk diri kita seperti adanya.

Aliran esensialisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini mengajarkan atau mewariskan budaya-budaya moral yang terdahulu, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya dalam kehidupan manusia. Sehingga melahirkan siswa yang berbudaya dan berjiwa seni yang dapat memelihara nilai-nilai secara turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri kepada masyarakat (Sunarya, 2012 : 79). Dapat meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan bertahan dalam kurun waktu lama. Serta dapat mengapresiasi karya seri, baik rupa maupun pertunjukan dengan baik dan dapat menghargai keberaneka ragaman karya seni dan budaya yang ada.

Aliran eksistensialisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna, yang berarti mengajarkan bahwa setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri serta berusaha memberikan bekal pengalaman yang luas dan komperhensif dalam semua bentuk kehidupan (Gandhi, 2011 : 189). Sehingga mencetak siswa yang yang percaya diri dalam bertindak, dan mempunyai kebebasan dalam berekspresi tentang seni.

Aliran progresivisme dapat diterapkan dalam pendidikan seni karena aliran ini mengajarkan dan membekali siswa dengan strategi-strategi pemecahan masalah untuk mengatasi tantangan kehidupan dan untuk menemukan kebenaran yang relevan pada saat ini. Sehingga mencetak siswa yang kreatif dalam berpikir, menciptakan inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan teknologi dan zaman, serta mampu memecahkan masalah (problem solver) tentang seni yang kemudian dapat bermanfaat untuk kehidupan siswa (Sunarya, 2012 : 70).

Pengintegrasian 3 (tiga) mazhab filsafat pendidikan yakni: Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme dengan pendidikan seni, menurut penulis selain untuk membentuk profil siswa yang mampu mengasah (mengolah), mengasihi (menyayangi), mengasuh (Memelihara) dan mengembangkan potensi multi kecerdasannya, juga akan dapat membentuk para anak didik yang mempunyai jiwa besar dengan karakter kuat pada dirinya, pendirian yang teguh, mempunyai budi pekerti yang baik, menghargai karya orang lain, dengan berlandaskan ajaran-ajaran tradisional yang penuh dengan pewarisan nilai-nilai luhur serta tidak menutup dirinya akan perubahan zaman sehingga dapat berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan berbudaya dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

4. PENUTUP

Dalam Pembahasan di atas dapat disimpulkan ke dalam beberapa point antara lain:

  1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
  2. Pendidikan harus mampu merubah tingkah laku peserta didik menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
  3. Kreativitas perlu dikembangkan dan dikenalkan sejak usia dini, karena kreativitas dapat memecahkan masalah apa pun. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara variasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan.
  4. Dalam filsafat pendidikan, dikenal beberapa aliran (mazhab) antara lain yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme, dan rekonstruksivisme. Masing masing filsafat memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum, penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.
  5. Pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan agar mampu menguasai kemampuan berkesenian sesuai dengan peran yang harus dimainkan.
  6. Ditinjau dari sasarannya terdapat dua perbedaan dalam pendiikan seni itu sendiri, yang pertama pendidikan tentang seni itu sendiri (education in arts) mengarahkan agar siswa menjadi aktor pelaku seni (tekstual). Yang kedua, pendidikan melalui seni (education thourgh arts) mengarahkan agar siswa mempunyai kompetensi berkesenian sebagai bentuk pengalaman belajar dalam rangka pendewasaan potensi individu sehingga dapat menjadi manusia seutuhnya (kontekstual).
  7. Pengintegrasian 3 (tiga) mazhab filsafat pendidikan (Esensialisme, Eksistensialisme, dan Progresivisme) dengan pendidikan seni, akan mencetak para anak didik yang mempunyai jiwa besar dengan karakter kuat pada dirinya, pendirian yang teguh, mempunyai budi pekerti yang baik, dengan berlandaskan ajaran-ajaran tradisional yang penuh dengan pewarisan nilai-nilai luhur serta tidak menutup dirinya akan perubahan zaman sehingga dapat berpikir imajinatif, kreatif, inovatif dan berbudaya dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

Dalam pemabahasan dalam makalah ini terdapat beberapa saran yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Pendidikan yang bersifat kreatif dan pendidikan sebagai pembentukan karakter tentunya harus ditanamkan sejak usia dini, agar peserta didik dapat survive dalam kehidupannya dan selalu ada ide-ide kreatif untuk memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupannya.
  2. Pendidikan seni perlu dikembangkan dan disebar luaskan karena pendidikan seni sangat penting dalam kehidupan yakni sebagai pendidikan nilai, dimana di dalamnya terdapat ajaran kelembutan ‘rasa’ atau perasaan, mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan pembentukan karakter yang kuat.
  3. Makalah ini perlu adanya koreksi ulang, sehingga jika ingin mengutip atau mempelajarinya lebih baik tanyakan terhadap orang yang lebih mengetahui dalam bidang ini atau diskusikan terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Gandhi, Teguh Wangsa. 2011. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Jalaluddin & Idi Abdullah. 2013. Filsafat Pendidikan. Jakarta:  Rajawali Pers.

Jazuli, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Semarang: Unesa University Press.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991.

Siregar, Evelin & Hartini Nara. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Soehardjo, A. J. 2012. Pendidikan seni dari Konsep Sampai Program. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soyomukti, Nuraini. 2015. Teori-Teori Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Suharto, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Sunarya, Yaya. 2012. Filsafat Pendidikan. Bandung: Arvino Raya.

Categories: Artikel,luckydeddy | Tinggalkan komentar

ANALISIS KONOTASI DAN DENOTASI PADA KAIN KAPAL LAMPUNG TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

Oleh:
DEDDY IRAWAN

palepai_det-centre

Gambar Kain Pelepai.

(Foto 1: Yudhi Sulistyo, 2012).

Lokasi: Festival Krakatau ke XXII

Sumber: http://www.tribaltextiles.info/community/files/xpalepaidetcentre205.jpg.pagespeed.ic.jDdGwv1Ugj.jpg

DENOTASI  : Kain Kapal atau Ship Cloth atau Boat Cloth adalah kain tradisional berbentuk menyerupai sarung yang dibuat dari tenunan benang katun (kapas) yang merupakan salah satu kain tradisional asal Lampung, sesuai dengan namanya, kain ini memiliki motif kapal sebagai motif utamanya. Kain kapal memiliki motif yang sangat khas, biasanya terdiri dari tiga bagian, yang pertama adalah motif border atau batas. Motif border biasanya terdiri dari satu, dua sampai tiga lapis dengan motif yang berbeda antar lapisan. Kemudian yang kedua adalah motif utama, motif utama ini biasanya terdiri dari kapal (jung), rumah, manusia dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Motif ini mengisi bagian utama dari kain kapal. Dan yang ketiga adalah motif filler atau pengisi, motif jenis ini biasanya mengisi daerah-daerah kosong pada bagian antar motif utama. Motif jenis ini juga bisanya berbentuk segitiga, kotak dan helaian pakis motif lain-lain.

Kain Kapal dibagi menjadi tiga macam sesuai dengan panjangnya kain tersebut:

1. Nampan, panjangnya biasanya kurang dari satu meter, biasa digunakan sebagai penutup atau pelapis nampan untuk seserahan pada acara lamaran maupun pernikahan di Lampung. Kain kapal jenis ini biasanya tidak digunakan oleh bangsawan.

2. Tatibin, biasanya panjangnya satu meteran dan digunakan sebagai hiasan dinding dan kadang kadang juga digunakan sebagai penutup seserahan.

3. Pelepai, ini adalah kain kapal yang paling panjang, panjangnya biasanya sampai tiga meter. Kain ini diguanakan sebagai hiasan dinding, namun biasanya kain kapal jenis ini hanya dimiliki orang-orang yang memiliki pengaruh besar di adat.

KONOTASI  :  Kain kapal dipakai sebagai perlambangan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Oleh karena itu, dalam pemaknaannya kain kapal terdiri dari tiga bagian, alam bawah, alam manusia dan alam atas. Kapal juga sebagai perlambangan kehidupan manusia yang bergerak dari satu titik menuju ke titik akhir. Motif kapal pada kain kapal dianggap sebagai perjalan roh orang yang baru meninggal menuju alam baka. Sehingga, pada masa ini motif-motif pada kain kapal cenderung diwarnai dengan warna-warna gelap. Cerita tentang tiga dunia juga diartikan sebagai dunia manusia, dunia atas (surga/nirwana) dan bawah (neraka).

Kain kapal selalu dihadirkan dalam beberapa titik penting dalam keidupan manusia yaitu: kelahiran, pernikahan dan kematian. Sebelum islam masuk, kematian dipandang sebagai titik terpenting dalam kehidupan oleh masyarakat Lampung sehingga kain kapal pun dianggap sebagai pelayaran roh menuju alam baka. Setelah islam masuk, justru kehidupan manusia adalah proses penting yang menentukan layak atau tidaknya seseorang untuk mencapai surga. Sehingga, setelah islam masuk kain kapal dianggap sebagai cerita perjalanan hidup anak manusia dari hidup sampai mati.

Categories: Artikel,luckydeddy | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.