Uncategorized

Pancasila dan Kriminalitas

Pancasila yang ditetapkan sebagai dasar negara berarti menjadi dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara dan seluruh warga negara Indonesia. Dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 alenia keempat terdapat rumusan sila-sila pancasila sebagai dasar negara Indonesia secara yuridis-konstitusional sah, berlaku dan mengikat seluruh lembaga negara, lembaga masyarakat, dan setiap warga negara, tanpa terkecuali. Pancasila sebagai ideologi negara, dapat dimaknai sebagai sistem kehidupan nasional yang meliputi aspek etika/moral, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan dalam rangka pencapaian cita-cita dan tujuan bangsa yang berlandaskan dasar negara. Namun sebagai falsafah negara, pancasila belum dapat dipahami sebagai sebuah ideologi dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari makin maraknya perilaku-perilaku menyimpang dari nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri.

Dekadensi Moral
Dewasa ini dapat kita lihat secara nyata masyarakat telah mengalami dekadensi moral dalam kehidupannya. Banyak kejadian-kejadian kriminalitas yang dilakukan oleh saudara setanah air kita seperti membunuh, mencuri, merampok, memperkosa dan lain sebagainya. Manusia seperti sudah kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, tidak lagi dapat berpikir bahwa tindakannya dapat merugikan orang lain bahkan negara, mereka hanya memikirkan kepentingannya diri sendiri. Mirisnya pelaku kriminalitas tidak terbatas oleh umur dan tingkat pendidikan, dari remaja hingga orang dewasa, dan dari yang tidak berpendidikan hingga orang-orang berpendidikan. Seperti sudah tidak lagi mempunyai dasar dan filter-diri dalam kehidupannya.
Pengaruh globalisasi dituding sebagai akar permasalahan dari dekadensi moral pada kehidupan saat ini, lapisan masyarakat dalam kehidupannya telah mengalami multi krisis. Renggangnya ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat, yang di dalamnya terdapat tradisi-tradisi, adat-istiadat, bahasa dan lain sebagainya yang berlaku dalam masyarakat kini tidak lagi berfungsi dengan baik, kehidupan sosial saat ini seakan acuh-tak acuh dan tidak perduli akan apa yang dilakukan oleh sesamanya. Berkembangnya kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia kini semakin menjamur seolah tanpa batasan, mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupannya. Media yang seharusnya memberikan unsur-unsur edukasi dalam setiap acaranya kini malah banyak menayangkan hal-hal yang tidak bermutu dan tidak pantas disaksikan, hal itu jelas berdampak besar pada konstruk berpikir yang pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan masyarakat dalam kesehariannya. Rapuhnya nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang menandai kemerosotan moral dalam bumi pertiwi. Pudarnya semangat gotong royong yang dikenal sebagai kekuatan bangsa kini semakin nyata, pancasila tidak lagi dapat menopang dengan kokoh pada setiap individu rakyatnya.


Membumikan Pancasila
Pancasila sebagai ideologi negara sudah tidak dapat dielakkan bahwa telah melekat di dalam setiap insan penduduk Indonesia. Pasalnya, pancasila sebagai dasar negara telah dikenalkan dan diajarkan di setiap instansi pendidikan dari mulai usia dini. Namun yang terjadi pancasila hanya sebagai natuur-wissenchaften (Jerman), suatu hal yang dilihat dari fisiknya saja sebagai kata-kata kering yang tak bermakna. Pancasila hanya diajarkan, dijelaskan dan dihafal. Dalam istilah yang dikemukakan Nietzsche adalah sebagai antikuaris, dapat diartikan sebagai benda kuno atau barang antik yang hanya berfungsi sebagai pajangan semata. Hal ini dilihat dari lemahnya penghayatan dan pengamalan dalam setiap butir pancasila, pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan, kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinnekaan dan kemajemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa, serta tidak berjalannya penegakan hukum secara adil dan optimal.
Menelisik dari sejarah dan tujuan dirumuskannya pancasila, dapat dikatakan bahwa pancasila sebagai titik-temu (common denominator) yang merupakan penyatuan dari berbagai ideologi, ras, agama dan golongan serta dapat berfungsi sebagai titik balik dan sebagai dasar yang mampu menyatukan masyarakat Indonesia. Kita sebagai rakyat Indonesia harus berkomitmen untuk menjadikan pancasila sebagai geistes-wiessenchaften (Jerman), suatu hal yang mempunyai ruh dan kaya akan makna yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai pancasila sebagai dasar dan ideologi harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Istilah Nietzsche adalah sebagai monumentalis, bahwa terdapat kebesaran dan keagungan yang terkandung dalam pancasila, bukan sekedar ‘memonumenkan’ tetapi mampu mewujudkan nilai-nilai kebesaran pancasila dalam kehidupan.
Pancasila bukan hanya sebuah konsep pemikiran semata yang hanya ada di awan, melainkan sebuah perangkat tata nilai yang sepatutnya dibumikan dan diwujudkan sebagai panduan dalam berbagai segi kehidupan. Jika seluruh individu masyarakat mampu mengamalkan secara konsisten dari nilai-nilai dan butir-butir yang terkandung di dalam setiap sila, maka dapat menopang pencapaian-pencapaian agung peradaban bangsa, bergotong royong, menghapuskan kekejian kriminalitas, saling menghargai-memahami antar sesama dan mampu menciptakan ‘bumi-surga’.

Categories: Artikel, Artikel,luckydeddy, Uncategorized | Tinggalkan komentar

Semar sebagai sumber ide

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Penciptaan

Sejalan dengan meningkatnya ragam kebutuhan dan swa-sembada manusia, maka dituntut pula pengembangan daya pikir dan daya cipta manusia. Kreativitas dan inovasi yang terus menerus berupaya untuk menemukan hal-hal baru demi memenuhi kepuasan hidup manusia. Hal ini membidani lahirnya istilah kriya seni, sehingga mendorong untuk selalu menciptakan hal-hal yang baru, baik berupa benda-benda yang memiliki nilai fungsional praktis maupun benda hias semata.

Faktor perencanaan dan desain sangat menentukan hasil akhir perwujudan karya kriya seni. Upaya membuat benda atau sebuah karya sedemikian rupa, merupakan hal yang tidak mudah. Berkaitan hal tersebut, maka proses desain beserta seluruh tahapan pencarian sumber ide menjadi dasar untuk memperkuat nilai-nilai estetika maupun nilai-nilai filosofis dari karya yang akan diciptakan.

Dengan keterampilan dan serta kemampuan daya cipta, rasa dan karsa manusia dapat menghasilkan beraneka ragam benda yang mempunyai masing-masing fungsi dan masing-masing pula bahan bakunya. Sedangkan dalam penciptaan karya ini menggunakan bahan tanah liat dengan finishing glasir. Benda fungsional yang dibuat berupa jam yang peletakannya yaitu diatas meja, atau dapat juga sebagai hiasan interior ruangan.

Sebuah jam tanpa disadari, ia telah melakukan pekerjaan yang terus-menerus dan tanpa henti, namun ia mampu dan bahkan tak pernah mengeluh. Artinya: “Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan ternyata kita bisa melakukannya”.

Tokoh Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya,  Bebadra = Membangun sarana dari dasar, dan Naya = Nayaka = Utusan mangrasul. Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia. Sedangkan, “kuncung semar”, yang dalam pribahasa jawa kuno, maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

  1. B.     Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dalam penciptaan karya ini adalah sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk mengenal dan memperdalami tentang kerajinan-kerajinan dari tanah liat dan mengaplikasikannya
  2. Eksplorasi bentuk dari teknik Slabing.
    1. Pengkayaan produk kriya yang memenuhi aspek fungsional, dekoratif dan estetis serta filosifis.

Adapun manfaat kandung didalamnya adalah:

  1. Bagi seniman : menjadi media penyampaian aspirasi,
  2. Bagi seniman lain : media pembelajaran dan sebagai refrensi,
  3. Umum : dijadikan untuk mengetahui waktu/sebagai interior suatu ruangan.
  1. C.      Metode Penciptaan

Metode yang digunakan dalam pembuatan karya tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pemilihan Tema

Merupakan bagian dari proses pemilihan tema yang dijadikan sebagai dasar konsep untuk sebuah karya seni.

  1. Pengumpulan Data/Referensi

Merupakan proses pengumpulan referensi-referensi yang berkaitan dengan tema, yang diperoleh secara primer maupun browsing, dimaksudkan untuk melengkapi data yang kemudian digunakan sebagai acuan dalam pembuatan karya tesebut.

  1. Penentuan Bentuk

Merupakan kegiatan menentukan bentuk dari suatu karya seni yang akan diwujudkan melalui proses perhitungan dari berbagai aspek kesenian.

  1. D.     Proses Penciptaan

Proses penciptaan/pembuatan karya tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Alat dan Bahan
    1. Alat:
  • Cuter
  • Senar
  • Wire modelling tools
  • Wood modelling tools
  • Banding wheel
  • Kuas ukuran 0.3 & 0.8
  • Triplek (Alas pembentukan)
  • Rol kayu
  • Sponges/Busa
  • Mangkok
  • Penggaris
  • Gunting
  • Bilah kayu
  • Pensil
  1. Bahan:
  • Tanah liat
  • Slip (tanah liat yang dihaluskan dengan campuran air).
  1. Teknik pengerjaan
    1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan,
    2. Membuat desain pada kertas HVS,
    3. Mengulet lanah liat, dengan tujuan membuang udara yang terdapat didalamnya.
    4. meletakkan tanah liat diatas triplek, lalu meratakan/melempengkan dengan menggonakan roll kayu dengan diletakkan bilah kayu pada sisi samping kanan dan kiri, supaya menahan roll kayu agar mendapatkan hasil yang rata dan halus,
    5. Membuat pola pada tanah liat yang telah rata menggunakan pensil dan memakai mal dari karton,
    6. Memotong lempengan tanah liat sesuai pola yang telah dibuat menggunakan cuter,
    7. Ambil potongan lempengan tanah liat yang telah berpola dengan menggunakan senar yang berfungsi untuk memotong bagian bawah yang lengket dengan triplek,
    8. Menyambungkan antara sisi satu dengan sisi-sisi yang lainnya secara bertahap dengan cara menggoreskan bagian-bagian yang akan disambung menggunakan wood modelling tool, kemudian diolesi slip tanah liat menggunakan kuas (berfungsi sebagai perekat/lem),
    9. Menyempurnakan bentuk yang telah dibuat dengan merapihkan sisi-sisi permukaanya dengan menggunakan wire modelling tool dan kuas yang setangah basah,
    10. Mengeringkan dengan cara diangin-anginkan,
    11. Pembakaran menggunakan teknik double fireing (duakali pembakaran), pembakaran pertama yaitu pembakaran biscuit, dan kemudian dibakar lagi setah melalui proses finishing.
  1. E.      Deskripsi Karya
    1. Bentuk :
      1. Lancip/kuncung = maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
      2. Batu bata = “ingin menjadi sesuatu”.

Maksudnya adalah sebuah batu bata hanyalah sebuah bata, tapi jika sebuah batu bata di gabung dengan batu bata lain, maka bisa menghasilkan sebuah bangunan yang indah, dan bahkan menjadi sebuah situs sejarah.

Begitu juga dengan kita, sebagai serang manusia, kita harus memiliki filosofi batu batu “ingin menjadi sesuatu”, tidak harus menjadi seseorang yang hebat, berkuasa, kaya ataupun dihormati, melainkan menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain merasa senang dan terbantu dengan keberadaan kita sebagai seorang manusia. seperti halnya sebuah batu bata yang menjadi sebuah bangunan, mereka ingin berguna bagi semua manusia yang berteduh di dalam sebuah bangunan, yang tidak lain adalah kumpulan dari tiap batu bata.

  1. Warna :
    1. Hijau = Warna hijau termasuk dalam kelas warna ‘dingin’ dan membawa kesegaran pada mata. Hijau melambangkan kesegaran, kesehatan, kealamian, dan pembaharuan.

b.Coklat = Warna ini merupakan warna dari tanah dan bumi, melambangkan kepercayaan, kedewasaan, dan daya tahan. Warna natural ini membawa kenyamanan bagi sekelilingnya sehingga banyak digunakan untuk mendekorasi ruangan.

  1. Teknik : Slabing/Lempeng

Teknik lempeng digunakan untuk membuat bentuk-bentuk utamanya bentuk yang memiliki sudut, seperti bentuk kubus, kotak, persegi panjang, segitiga, segi lima , hexagon dan lain sebagainya.

Didalam teknik lempeng di bedakan menjadi 2 jenis tanah :

  • Lempeng lunak (soft slabbing),
  • Lempeng “keras” (hard slabbing)

Jenis lempengan dengan tanah lunak sangat responsive (memudahkan untuk di bentuk), folding (dapat dilipat), crumpling (keriput/kusut), frilling (rumbai-rumbai) dan mudah untuk dibengkokan. Teknik ini jika di kriya tekstil hampir seperti membuat baju atau seni melipat kertas (origami). Sedangkan lempeng “keras” sama seperti joinery (menyambung/merangkai).

  1. Finishing : Glasir

Glasir merupakan material yang terdiri dari beberapa bahan tanah atau batuan silikat dimana bahan-bahan tersebut selama proses pembakaran akan melebur dan membentuk lapisan tipis seperti gelas yang melekat menjadi satu pada permukaan badan keramik.

Glasir merupakan kombinasi yang seimbang dari satu atau lebih oksida basa (Flux), Oksida Asam (Silika), dan Oksida Netral (Alumina), ketiga bahan tersebutmerupakan bahan utama pembentuk glasir yang dapat disusun dengan berbagai kompoisisi untuk suhu kematangan glasir yang dikehendaki.

Dalam pengertian yang sederhana untuk membuat glasir diperlukan tiga bahan utama, yaitu :

  • SILIKA: berfungsi sebagai unsur penggelas (pembentuk kaca).

Silika (SiO2), juga disebut Flint atau Kwarsa yang akan membentuk lapisan gelas bila mencair dan kemudian membeku. Silika murni berbentuk menyerupai kristal, dimana apabila berdiri sendiri titik leburnya sangat tinggi antara yaitu 16100 C – 17100 C.

  • ALUMINA: berfungsi sebagai unsur pengeras

Al2O3 digunakan untuk menambah kekentalan lapisan glasir, membantu membentuk lapisan glasir yang lebih kuat dan keras serta memberikan kestabilan pada benda keramik. Yang membedakan glasir dengan kaca/gelas adalah kandungan aluminanya yang tinggi.

  • FLUX : berfungsi sebagai unsur pelebur (peleleh).

Digunakan untuk menurunkan suhu lebur bahan-bahan glasir. Flux dalam bentuk oksida atau karbonat yang sering dipakai adalah ; timbal, boraks, sodium/natrium, potassium/kalium, lithium, kalsium, magnesium, barium, strontium, bersama-sama dengan oksida logam seperti : besi, tembaga, kobalt, mangaan, krom, nikel, tin, seng, dan titanium akan memberikan warna pada glasir, juga dengan bahan yang mengandung lebih sedikit oksida seperti : antimoni, vanadium, selenium, emas, kadmium, uranium.

  1. F.      Simpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan mengenai hal-hal pokok berkaitan dengan karya tersebut, adalah sebagai berikut :

  1. Karya ini dibuat untuk pengkayaan produk kriya yang memenuhi aspek fungsional, dekoratif dan estetis serta filosifis.
  2. Tema diambil dari bentuk rambut kuncung semar.
  3. Teknik pembuatan menggunakan Teknik Slab/Lempeng.
  4. Glasir merupakan campuran oksida basa (Flux), Oksida Asam (Silika), dan Oksida Netral (Alumina), yang digunakan untuk memfinishing keramik.
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KERAJINAN BUNGA PLASTIK

           Sejalan dengan meningkatnya ragam kebutuhan dan swa-sembada manusia, maka dituntut pula pengembangan daya pikir dan daya cipta manusia. Kreativitas dan inovasi yang terus menerus berupaya untuk menemukan hal-hal baru demi memenuhi kepuasan hidup manusia. Hal ini mendorong lahirnya istilah kriya seni, sehingga memotivasi untuk selalu menciptakan hal-hal yang baru, baik berupa benda-benda yang memiliki nilai fungsional praktis maupun benda hias semata.

          Dengan keterampilan dan serta kemampuan daya cipta, rasa dan karsa manusia dapat menghasilkan beraneka ragam benda seperti-halnya bunga plastik ini, dengan kejelian dan keterampilan yang telah dimiliki oleh ibu Samiati maka beliau dapat menghasilkan benda hias yang berupa bunga plastik tersebut dengan bermacam-macam bentuk dan warna yang sangat indah.

          Bunga plastik tersebut dibuat beliau dengan menggunakan bahan-bahan yang berupa barang bekas yakni gelas plastik tempat air mineral bekas, selain ekonomis dan praktis juga sangat ramah lingkungan, karna merupakan suatu langkah menghentikan global warming dan patut diacungi jempol. Ibu Samiati menjual kerajinanya tersebut dengan harga yang sangat ekonomis yaitu kisaran Rp.50.000,- sd Rp.300.000,-  untuk pemesanan dapat datang sendiri dikediamannya di Jln Abdul Latif Yasin, rt 28, rw 11, Sumbersari, Teluk Dalem, Mataram Baru, Lampung Timur atau dapat juga melalui via telpon atau via sms pada nomer 0812 7931 7845.

Atas kunjungannya kami ucapkan TERIMA KASIH,,,,,,,,,,,,,

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pengertian Seni Kriya

http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/pengertian-seni-kriya/
Posted: June 14, 2009 in Kriya

I Wayan Seriyoga Parta

Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).

Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter diartikan sebagai ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)

Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)

Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.

Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)

Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.

Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.

Pemisahan yang berdasarkan strata atau kedudukan tersebut mencerminkan posisi dan eksistensi seni kriya di masa lalu. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata, di dalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skill yang tinggi. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.

Kembali ditegaskan oleh Prof. SP. Gustami: seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung (Prof. SP.Gustami, 1992:71).

Uraian tadi menyiratkan bahwa kriya merupakan cabang seni yang memiliki muatan estetik, simbolik dan filosofis sehingga menghadirkan karya-karya yang adiluhung dan munomental sepanjang jaman. Praktek kriya pada masa lalu dibedakan dari kerajinan, kriya berada dalam lingkup istana (kerajaan) pembuatnya diberi gelar Empu. Sedangkan kerajinan yang berakar dari kata “rajin” berada di luar lingkungan istana, dilakoni oleh rakyat jelata dan pembuatnya disebut pengerajin atau pandhe.

Dari beberapa pendapat yang telah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa wujud awal seni kriya lebih ditujukan sebagai seni pakai (terapan). Praktek seni kriya pada awalnya bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Contohnya dapat kita saksikan pada dari artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara ritual adat (suku) serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan seperti; penghormatan terhadap arwah nenek moyang.

Masuknya agama Hindu dan Budha memberikan perubahan tidak saja dalam hal kepercayaan, tetapi juga pada sistem sosial dalam masyarakat. Struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta menimbulkan tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia terjadi akibat asimilasi serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha India yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan prasejarah di Indonesia. Kedua sistem keagamaan ini mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia yaitu pengkultusan terhadap arwah nenek moyang, dan kepercayaan terhadap spirit yang ada di alam sekitar. Kemudian kerap tumpang tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkretisme Hindu-Budha Indonesia. (Claire Holt diterjemahkan oleh RM. Soedarsono, 2000)

Tumbuh dan berkembangnya kebudayan Hindu-Budha di Indonesia kemudian melahirkan kesenian berupa seni ukir dengan beraneka ragam hias, dan patung perwujudan dewa-dewa. Dalam sistem sosial kemudian lahir sistem pemerintahan kerajaan yang berdasarkan kepada kepercayaan Hindu seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat, Mataram Kuno Jawa Tengah. Hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan maha patih Gajah Mada yang tersohor, yang kemudian membawa pengaruh Hindu ke Bali. Seni ukir tradisional masih diwarisi hingga saat ini.

Peran seni kriyapun menjadi semakin berkembang tidak saja sebagai komponen dalam hal kepercayaan/agama, namun juga menjadi konsumsi golongan elit bangsawan yaitu sebagai penanda status kebangsawanan. Kondisi tersebut menjadikan kriya sebagai seni yang bersifat elitis karena menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung tumbuh pada kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.

Akan tetapi keadaannya berbeda pada masa modern, dimana tingkatan sosial seperti pada masa kerajaan yang disebut “kasta” sudah tidak lagi eksis. Kalaupun ada tingkatan sosial kini tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi kemapanan ekonomi kini menjadi penanda bagi status seseorang. Artinya tarap ekonomi yang dimiliki seseorang dapat membedakan posisi mereka dari orang lain, secara sederhana kekuasan sekarang ditentukan oleh kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang. Dalam sistem masyarakat modern kondisinya telah berubah kaum elit yang dulunya ditempati oleh kaum bangsawan (ningrat), sekarang digantikan kalangan konglomerat (pemilik modal). Kondisi ini membawa dampak bagi pada posisi kriya, karena kini kriya mulai kehilangan struktur sosial yang menopang eksistensinya seperti pada masa lalu.

Situasi ini menjadikan kriya tidak lagi menjadi seni yang spesial karena posisi terhormatnya di masa lalu kini sudah terancam tidak eksis lagi, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan masa lalu. Terlebih lagi dalam industri budaya seperti sekarang kedudukan kriya kini tidak lebih sebagai obyek pasar, yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan demi kepentingan ekonomi. Kriya kini mengalami desakralisasi dari posisi yang terhormat di masa lalu, yang adiluhung merupakan artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.

Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Inilah tugas berat insan kriya kini. Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan jaman, konsep kriyapun terus berkembang. Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Kriya kini menjelma menjadi hanya pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KARYA SAYA

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.