TOWARDS A HOLISTIC PARADIGM OF ART EDUCATION (By Peter London)

Direview oleh:
DEDDY IRAWAN

Artikel dengan judul “Towards A Holistic Paradigm Of Art Education” yang dapat diartikan sebagai “Menuju Paradigma Holistik Pendidikan Seni” ini memaparkan pengalaman Peter London dalam penelitiannya selama dua puluh lima tahun yang telah dilakukan di beberapa Negara diantaranya: Jepang, Nepal, Amerika, Austria, India, dan di sepanjang benua Asia, Afrika dan Amerika. Dalam penelitiannya Peter London mengemukakan tentang mengapa pendekatan holistik untuk seni dan pengajarannya, manfaat dari pendekatan holistik untuk seni dan pengajarannya, menuju sebuah paradigma holistik dan bagian-bagian yang seharusnya mencapai kongruensi dalam pengembangan holistik masing-masing individu peserta didik, yakni pikiran (mind), tubuh (body), dan jiwa (spirit).

Pada bagian awal dikemukakan bahwa pada iklim sosial umum kita kebanyakan tidak berseni, yang mana tidak berkembang dan tidak adanya keselaran antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Kemudian akan berdampak negatif bagi individu dan kolektif dalam kehidupan masyarakat, bahkan pada lingkungan sekolah sebagai pencetak perilaku yang terkadang kaku, lemah, ragu, terdistorsi, tidak seimbang, cemas, berlebihan atau bahkan berbahaya untuk diri, lingkungan, dan untuk ekspresi berseni. Dengan demikian perlu adanya pendekatan sistematik pendidikan untuk merubah keadaan pendidikan menjadi efektif, seperti halnya dalam pendidikan holistik, sebuah pendekatan yang meliputi seluruh orang, pikiran, tubuh, dan jiwa.

Sebelum jauh membahas tentang apa yang disebut dengan paradigma holistik, perlu adanya penjelasan tentang paradigma holistik itu sendiri. Menurut Husein Heriyanto, paradigma holistik dapat diartikan sebagai suatu cara pandang yang menyeluruh dalam mempersepsi realitas. Berpandangan holistik artinya lebih memandang aspek keseluruhan dari pada bagian-bagian, bercorak sistemik, terintegrasi, kompleks, dinamis, non-mekanik, dan non-linier. Dalam ranah pendidikan, pendidikan holistik merupakan suatu metode pendidikan yang membangun manusia secara keseluruhan dan utuh dengan mengembangkan semua potensi manusia yang mencakup potensi sosial-emosi, potensi intelektual, potensi moral atau karakter, kreatifitas, dan spiritual (Megawangi, 2005 : 6). Dengan sedikit penjelasan tentang arti kata  paradigma holistik dan holistik dalam ranah pendidikan, dapat ditangkap maksud dari pemaparan Peter London bahwasannya sebuah paradigma holistik untuk mengajar dan mempraktikkan seni mampu menyediakan pengalaman transformasi, di mana pikiran, tubuh, dan jiwa bergabung menuju kongruensi, yang menghasilkan individu dan komunitas yang memiliki peningkatan karakter.

Peter London mengamati kondisi pendidikan yang mana sekolah dan guru seringkali  mengajarkan tentang perolehan data dan penalaran deliberatif yang keduanya merupakan strategi yang sangat hebat dari pikiran, dan sering membuat kita tahu, bahkan pandai, atau perkadang pintar. Namun hal tersebut dirasa kurang dalam membuat kita selaras dalam pikiran tubuh dan jiwa. Perolehan data, ide dan penalaran disutkan hanya merupakan sebagian kecil dari kapasitas pikiran, yang dengan hal tersebut tidak cukup untuk dapat merubah nilai-nilai dan perilaku-perilaku. Penggabungan artistik dan autentik dapat memberikan sebuah model dari aktivitas holistik. Dengan demikian mengajar seni dalam sebuah paradigma holistik dapat menyediakan sebuah instrumen untuk menumbuhkan dan meningkatkan keseluruhan individu, dan bahkan ke ranah masyarakat.

Peter London mengajak kita menjalah lebih jauh tentang tiga bagian dalam pendidikan holistik pendidikan seni diantaranya pikiran, tubuh dan jiwa.

  1. Pikiran (mind)

Pikiran yang seharusnya dapat dikembangkan dan dilatih sehingga memiliki kapasitas yang lebih, malah hanya dibiasakan untuk sekedar menalar, namun itulah realita yang ada pada sistem pendidikan di sekolah saat ini. Padahal selain bernalar, kita juga bermimpi, berimajinasi, dan berintuisi; berfantasi, melebih-lebihkan, mengingat, dan juga percaya. Kita memiliki kapasitas untuk setia, membayangkan, dan kagum. Semua itu merupakan kapasitas yang berbeda dalam pikiran kita, dan semuanya, bersama penalaran membentuk pikiran manusia yang beraneka ragam. Kesalahan besar dari sistem pendidikan kita adalah menyebut penalaran sebagai pikiran, penalaran hanya merupakan satu kapasitas dari intelejensi pikiran saja. Hal tersebut secara tereksklusi mematikan seluruh bentuk intelejensi lainnya, merusak kualitas lain dari pikiran, dan pada akhirnya melemahkan dan mendirstorsi penalaran itu sendiri.

Setalah mengulas potensi dari pikiran yang ternyata mempunyai banyak kapasitas yang seharusnya dikembangkan, kini kita beralih pada pembahasan peran pendidikan seni dalam mewujudkan hal tersebut. Mengembangkan satu dari banyak agen pikiran, dianggap gagal untuk meningkatkan perilaku dan sama sekali tidak meningkatkan pikiran. Pendidikan seni mungkin tidak menggunakan pikiran holistik, tetapi pikiran yang berseni adalah sebuah pikiran holistik. Pendidikan holistik merujuk dan mengembangkan potensi-potensi seperti: keingintahuan, kekaguman, intuisi, mimpi, fantasi, dan subkesadaran, yang merupakan semua keadaan pikiran yang familiar pada cara berfikir orang-orang yang kreatif.

  1. Tubuh (body)

Faktanya keseluruhan tubuh dan bagian-bagiannya seperti organ, sistem, dan sel mempunyai intelejensi. Pendidikan holistik secara hati-hati, eksplisit, dan konstan mengolah berbagai intelejensi yang ada di dalam keseluruhan tubuh. Seni visual dapat mempelajari begitu banyak hal mengenai apa yang dibutuhkan dari tubuh, yang berupa informasi, kesadaran, keterlatihan, dan keselarasan dari apa yang dipelajari dan dipraktikkan oleh komunitas penari, pemusik, atlit, dan orang-orang teater. Banyak budaya juga telah mengembangkan sistem canggih untuk memberikan pengajaran tentang tubuh yang memiliki kesadaran, kewaspadaan, dan intelejensi.

Pendidikan seni mengajarkan/mengolah tubuh menjadi harmonis dan berintelejensi. Faktanya, dapat dikatakan bahwa proses kreatif adalah sebuah proses perwujudan. Beberapa hal mengenai pelaku seni seperti: visual, teatrikal, dan musikal itu penuh dengan bukti mengenai sebarapa banyak inspirasi dan petunjuk berasal dari kinestetiknya sendiri.

  1. Jiwa (spirit)

Jiwa sebagai bagian yang kita percayai sebagai nilai yang terhebat. Dimensi spiritual memberikan kualitas esensial pada kita dan menghapus kekompleksan dari perilaku kita pada umumnya. Apa pun yang bertahan dalam pusat kepercayaan dan sistem nilai kita, atau apapun yang terhebat dan paling diperhatikan, dapat dikatan menciptakan dimensi spiritual kita. Ketika tercapai harmoni antara pikiran, tubuh, dan jiwa, orang mengalami apa yang disebut Abraham Maslow, William James dan Micky Harte atau Lous Armstrong sebagai pengalaman puncak, religius, atau sebuah pengalaman luar biasa, dan pengalaman yang berjalan baik. Apapun nama dan dari mana asalnya, ketika terjadi kongruensi antara pikiran, tubuh, dan jiwa, orang-orang yang mengalami keadaan seperti itu menceritakan bahwa mereka sedang mengalami keadaan yang sempurna, seperti halnya: usaha menjadi ringan, ide mengalir dengan mudah dan cepatnya, stamina meningkat, begitu juga kesabaran; fokus menjadi lebih berkonsentrasi, waktu menjadi lebih lama, batas-batas melunak, definisi menjadi semakin jelas, ego berkurang, seluruh indera menjadi menguat; penglihatan dapat melihat segala, dunia menjadi sangat membahagiakan, semua hal menjadi menarik, semua hal menjadi berarti, semua hal seakan menjadi porsi dari setiap hal lainnya; perasaan pedduli terhadap segala hal, emosi menjadi penuh tetapi tanpa gangguan yang kuat, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Gandhi, Teguh Wangsa. 2011. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Jalaluddin & Idi Abdullah. 2013. Filsafat Pendidikan. Jakarta:  Rajawali Pers.

Jazuli, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Semarang: Unesa University Press.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991.

Megawangi, Ratna . 2005. Pendidikan Holistik. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation.

Siregar, Evelin & Hartini Nara. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Soehardjo, A. J. 2012. Pendidikan seni dari Konsep Sampai Program. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soyomukti, Nuraini. 2015. Teori-Teori Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Suharto, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Sunarya, Yaya. 2012. Filsafat Pendidikan. Bandung: Arvino Raya.

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: